(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Sunday, June 1, 2008
Catatan Sejarah Perang Udara di Dunia


PERANG KOREA - Perang Korea berlangsung dari tahun 1950-1953.

Perang yang dipicu masalah politik (komunis-kapitalis) ini melibatkan tiga negara besar : Amerika, Cina dan Uni Soviet, disamping kedua wilayah yang kemudian bertikai (Korea Utara-Selatan).

Pesawat tempur baling-baling Il-2 adalah korban jet pertama P-80 Shooting Star/Wing of Fame

Uni Soviet "menempatkan" Kim Il Sung sebagai pemimpin baru Republik Rakyat Demokrat Korea, 9 Juni 1948. Lalu Amerika "menjagokan" Syngman Rhee menjadi Presiden Korea Selatan. Korea Utara yang lebih ingin Korea bersatu, seakan mendapat lampu hijau karena Kim Il Sung memperoleh dukungan Uni Soviet. Seperti tak sabar, Korut menyerbu ke selatan yang notabene dilindungi Amerika, dengan menggelar armada tank T-34 serta kekuatan udara. Perang pecah tahun 1950. Ikutnya Cina makin memperkusut keadaan.

Langit lantas berubah menjadi ajang laga pesawat-pesawat tempur ringan seperti F-80 Shooting Star, F-86 Sabre, MiG-15, Yak-9, F-82G Twin Mustang, Il-10, dan P-51 Mustang. Cina mendukung Korut dengan mengirim 50 divisi berjumlah 300.000 hingga 400.000 personil. Sementara Presiden AS Harry S. Truman tetap pada pendiriannya : musnahkan komunis! Berikut beberapa peristiwa penting selama Perang Korea.

27 Juni 1950 - Dua hari sejak Perang Korea dimulai, tujuh pesawat Korut ditembak jatuh oleh penerbang tempur kelima AU AS. Ketujuh pesawat ini ditembak sehubungan penyerangan terhadap pesawat angkut AS, C-54 dan C-47 yang terbang dalam misi evakuasi tentara Amerika akibat serangan AD Korut. Serangan pertama Korut dilakukan tengah hari. Lima Yak-7 menyerbu pangkalan Kimpo. Lima F-82 Twin Mustang Korsel, langsung mencegat. Hasilnya, tiga Yak-7 terbakar di udara. Penembakan udara pertama ini dilakukan oleh Letnan Willian G Hudson. Sejam kemudian, Korut mengirim delapan pesawat serang Il-10. Sial, Korsel ternyata sudah menyiapkan penghadangnya. Empat jet tempur F-80 Shooting Star USAF, berhasil menjatuhkan empat Il-10. Dua diantaranya dilakukan oleh Letnan Robert E.Wayne.

8 November 1950. Duel udara pertama jet tempur dalam perang Korea, terjadi di atas sungai Yalu kemudian populer sebagai lembah MiG. Adalah Russel J Brown yang menerbangkan F-80C dari Wing Pencegat Tempur 51. Brown berhasil menjatuhkan MiG-15 dalam duel lima detik setelah memuntahkan senapan mesin 0,5 inci-nya. Namun tanggal 17 Desember 1950, kekalahan pertama dialami F-86 Sabre atas MiG-15 Soviet.

Perang Korea berakhir lewat gencatan senjata. Hasilnya, Korea mesti dibagi dua. Namun demikian, ketegangan di semenanjung Korea masih terus membekas. Kerugian besar diderita kedua belah pihak ketika perang dihentikan, 27 Juli 1953. Amerika kehilangan 36.914 tentaranya, sementara Korsel 415.005. Korut menurut Departemen Pertahanan AS, kehilangan 2 juta serdadunya jumlah yang sangat besar untuk perang tiga tahun.

Perang Udara di Timur Tengah - Peperangan udara di Timur Tengah yang berpusat pada permusuhan antara Israel dengan negara-negara Arab di sekitarnya, merupakan bagian sangat penting dalam beberapa perang yang terjadi semenjak kelahiran negara Israel yang ditentang para tetangganya. Paling tidak tercatat tiga perang udara besar, yaitu tahun 1956 antara Mesir dengan Israel yang kemudian dibantu Inggris dan Perancis. Selanjutnya perang antara Israel dengan negara-negara Arab (1967 dan 1973). Karena supremasi udara Israel dalam dua peperangan (1956-1967), maka perang tersebut berlangsung relatif singkat dengan kemenangan Israel. Namun pada peperangan ketiga, keadaan menjadi lebih seimbang dan perang pun berlangsung lebih lama. Tidak ada yang menang atau kalah dari segi kemiliteran.

Perang Terusan Suez - Diawali dengan nasionalisasi Terusan Suez oleh pemimpin Mesir Presiden Gamal Abdul Nasser pada 29 Juli 1956, maka Inggris dan Perancis berkolusi dengan Israel untuk menyerang Mesir dan menguasai terusan tersebut. Israel yang takut akan kemungkinan ancaman bersama dari Mesir, Yordania, dan Irak, melancarkan serangan mendadak pada 29 Oktober terhadap Sinai, dengan menerjunkan batalion pasukan payung di Celah Mitla yang strategis. Dua hari kemudian Nasser menarik pasukannya dari Sinai. Sejak itu, serangan udara malam atas pangkalan udara serta sasaran strategis Mesir lainnya, mulai dilancarkan pembom Valiant dan Canberra Inggris, disusul pesawat Perancis.

Pada 5 November, Israel praktis menguasai Sinai dan merebut Sharm-el-Sheikh serta membuka kembali Selat Tiran yang tadinya diblokade Mesir. Dalam perang udara Suez, yang menonjol adalah penghancuran Angkatan Udara Mesir oleh serangan udara Inggris-Perancis. Saat pecah perang, Mesir memiliki sekitar 175 pesawat tempur, termasuk 44 pembom jet bermesin dua Ilyushin Il-28. Namun yang operasional hanya 12 Il-28 dan 57 pesawat tempur MiG-15, Vampire, dan Meteor. Perlawanan Mesir di udara dianggap kurang berarti waktu itu.

Mirage IIIC Israel membabat habis MiG negara Arab dalam tempo tiga jam/The Colour Encyclopedia of Aircraft


Perang Enam Hari 1967 - Usai perang Suez, Israel mundur dari Sinai yang kemudian dijaga pasukan PBB. Penyelesaian politik belum terang dan suasana permusuhan makin mengental. Kedua pihak menerima terus persenjataan modern dari luar (Barat dan Uni Soviet). Mei 1967, Nasser meminta PBB menarik pasukannya dari Sinai. Lalu diamini PBB. Akhir Mei, pasukan Irak memasuki Yordania memberi dukungan. Israel merasa terancam dari berbagai penjuru. Karena kuatnya kekhawatiran, Israel memutuskan melancarkan serangan udara terlebih dulu dan memulai apa yang kemudian dikenal sebagai Perang Enam Hari.

Serangan pendadakan atau pre-emptive strike, digelar AU Israel, pagi hari, 5 Juni 1967, dengan menyerang semua pangkalan udara di sekitar Terusan Suez dan Sinai. Dengan terbang rendah, serangan bergelombang pukul 07.45 ini dilakukan dengan interval hanya 10 menit. Kurang dari tiga jam serangan ini, diperkirakan 300 dari 340 pesawat Mesir luluh lantak sebelum sempat terbang. Termasuk 30 pesawat pembom jarak jauh Tupolev Tu-16. Bersamaan dengan hancurnya kekuatan udara lawan, AD Israel bergerak masuk ke Sinai. Siang itu juga, AU Yordania dilumpuhkan lewat serangan udara.

Selanjutnya pertempuran lebih terpusat di darat. Tapi pos-pos radar serta tempat peluncuran rudal anti-pesawat, tetap dihantam. Sisa kekuatan AU Mesir mencoba membalas di Sinai, untuk menahan laju tentara darat Israel. Pada tanggal 10 Juni, perang usai dengan pertempuran terakhir di Golan. Pesawat Israel terus mengejar pasukan Suriah hingga 25 mil dari Damaskus.

Tidak terlalu berlebihan dikatakan, perang enam hari sebenarnya dimenangkan Israel. Untuk serangan ini, pilotnya secara diam-diam dilatih khusus untuk pendadakan. Hingga serangan yang amat berhasil ini sampai disebut "terklasik dari yang klasik".

Pesawat pembom tempur yang dipakai terdiri dari Mirage III, Super Mystere dan Vautour. Serangan udara ini dilakukan bertubi-tubi dalam tempo tinggi, sehingga sejumlah pilot sampai melakukan delapan sorti setiap harinya. Mesir sebenarnya memiliki rudal SAM-2, namun tidak ampuh menangkal pesawat yang terbang rendah. Dalam operasi udara ini, dari 240 pesawatnya, Israel hanya kehilangan 26 pesawat.

Perang 1973 lebih berimbang - Sesudah perang enam hari, permusuhan kian sengit. Serang menyerang, baik lewat serangan artileri atau satuan komando, kerap terjadi. September 1970, Presiden Nasser yang meninggal digantikan wakilnya Anwar Sadat. Pemimpin baru yang mau menyelesaikan permusuhan dengan cara damai ini, selalu terbentur sikap kaku Israel mengenai jadwal mundur dari wilayah yang didudukinya.

Disela diplomasinya, diam-diam Sadat merancang rencana jika upaya damai buntu. Dan memang buntu. Buktinya, 6 Oktober 1973, Mesir dan Suriah secara serentak menyerang Israel sebagai awal dari apa yang disebut Perang Yom Kippur karena hari itu dimulainya hari keagamaan Yahudi, yang biasanya diisi dengan liburan atau beribadat.

Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez dan merebut garis pertahanan Israel serta menancapkan posisinya di sebagian tanah Sinai. Pada awal perang, AU Israel diperkuat 330 pesawat garis depan, 130 pesawat supersonik Phantom, dan Mirage, yang berhadapan dengan 520 pesawat Mesir-Suriah seperti MiG-21. Pasukan Israel menderita kerugian besar dalam perang ketiga ini. Kehilangan 800 tank, 115 pesawat, dan hampir 2.500 prajurit. Jumlah ini sekitar sepertiga dari yang diderita lawannya. Bagi negara sekecil Israel, apa yang dialaminya sungguh amat berat.

Mengapa Israel tidak mampu mengulang keberhasilannya seperti dalam kedua perang sebelumnya? Tak lain karena negara-negara Arab berhasil menghalangi supremasi udara Israel dengan membuat pagar pertahanan rudal anti-pesawat, ditunjang tembok meriam anti-pesawat, termasuk ZSU-23. Dalam perang hari pertama saja, Israel kehilangan 30 pesawat A-4 Skyhawk dan 10 pesawat F-4. Kebanyakan di Golan. Mesir dan Suriah mengerahkan berbagai rudal, dari SAM-2 untuk pesawat terbang tinggi, sampai SAM-7 yang dapat ditembakkan dari pundak seorang prajurit.

Negara-negara Arab dalam peperangan ketiga ini kehilangan lebih dari 400 pesawat. Sebagian korban penangkis udara. Sebagian lainnya karena dog-fight. Perang Yom Kippur diakhiri dengan gencatan senjata pada 24 Oktober dengan hasil yang lebih seimbang karena ketiadaan supremasi udara mutlak dari masing-masing pihak.


Sumber: http://www.angkasa-online.com


posted by FerryHZ at 9:50 PM | Permalink |


0 Comments: