(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a;if(window.performance)var e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart;var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Sunday, March 30, 2008
Sejarah Surat Kabar di Indonesia
 

Ada beberapa kriteria untuk bisa menyebut apakah surat kabar pertama yang terbit di Indonesia. Surat kabar mulai terbit di Indonesia pada pertengahan abad 18 dan umumnya diterbitkan oleh orang-orang Belanda dan berbahasa Belanda pula namun seiring dengan perkembangan mulai banyak surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Melayu namun kebanyakan masih beraksara Arab, Jawa atapun campuran dengan aksara Latin.

Yang dimaksud dengan surat kabar pertama di Indonesia ialah surat kabar dengan bahasa Melayu dan murni beraksara Latin dan memiliki redaksi orang Indonesia asli serta diterbitkan oleh orang Indonesia asli.

Warta Berita adalah koran atau surat kabar pertama di Indonesia dan terbit pada tahun 1901.

 

Surat Kabar Tertua di Sumatera

 
Surat Kabar yang tertua di Sumatera adalah Sumatera Courant, didirikan tahun 1859 di kota Padang, Sumatera Barat. Mula-mula berukuran kecil, terbit hanya beberapa kali dalam seminggu. Pendirinya seorang Indo terkenal sekali di Padang pada abad 19, bernama L.N.H.A. Chatelin yang sekaligus juga menjadi pemimpin redaksinya. Entah apa sebabnya, perusahaan tersebut dijual ketangan seorang Indo terkenal bernama H.A. Mess, walaupun Chatelin tetap sebagai pimpinan redaksi. Tahun 1878 koran ini telah terbit tiap dua hari sekali, tetapi nama Chatelin tidak disebut-sebut lagi.

 

(Gambar 1.1 Surat kabar pertama pada tahun 1859 di Sumatera)

 
Hampir bersamaan waktunya, terbit pula di Padang surat kabar tertua nomor dua yaitu Padangsche Nieuws en Advertentieblad oleh R.H. Van Wijk Rz. Nomor perdananya muncul tanggal 17 Desember 1859, seterusnya terbit tiap Sabtu.

Koran tertua nomor tiga ialah Padangsche Handelsblad, mulai terbit tahun 1871 oleh sebuah perusahaan milik seorang Indo bernama H.J. Klitsch & Co. Mula-mula terbit hanya dua kali seminggu, tapi semenjak 1881 meningkat menjadi tiga kali. Semenjak tahun itu pula nama penerbitnya seperti tercantum di koran itu sendiri, menjadi Klitsch & Holtzapffel. Redaksinya dipimpin oleh seorang yang tak asing lagi di Padang, yaitu Mr. J. van Bosse, pengacara terkenal. Tahun 1883 nama koran ini diganti menjadi Nieuw Padangsche Handelsblad.
 

(Gambar 1.2 Surat Kabar Padangsche Handelsblad yang terbit tahun 1871)


Koran tertua nomor empat adalah De Padanger yang mulai terbit pada awal Januari 1900. De Padanger merupakan hasil merger antara Sumatera Courant dengan Nieuw Padangsche Handelsblad setelah perusahaan penerbitannya diambil alih oleh J. van Bosse. Sejak saat itu De Padanger terbit setiap hari. 

Kedua surat kabar tadi menguasai opini umum selama paruh kedua abad yang lalu. Mereka sering cakar-cakaran. Walaupun menentang keras segala upaya pemerintah memajukan pendidikan modern bagi anak-anak pribumi dan pada umumnya sering mengejek bangsa kita, namun kita harus mengakui bahwa tidak sedikit tulisan mereka menghantam secara keras politik Belanda. Yang paling banyak dikritik ialah keserakahan bangsa Belanda tetapi kritik mereka bukan disebabkan mereka bersimpati pada perjuangan kaum pribumi tetapi lebih pada karena kepentingan mereka yang semakin terdesak bahkan dengan semakin banyaknya pergerakan kemerdekaan dari pribumi semakin keras mereka menentang perjuangan kemerdekaan Indonesia karena mereka menganggap orang Indo lebih tinggi dari bangsa Indonesia. Pada perang dunia kedua, banyak sekali dari kaum Indo ini mendukung kaum Fasis.

Bersamaan dengan mergernya Sumatera Courant dan Nieuw Padangsche Handelsblad menjadi De Padanger sejak awal Januari 1900, kedua usaha penerbitan juga disatukan dengan nama baru: "N.V. Snelpersdrukkerij Insulinde'" berkantor di Pondok. Saingan mereka ialah koran Sumatera Bode yang telah terbit pada tahun 1892 oleh Karl Baumer. Keluarga Baumer merupakan pengusaha suskes di kota Padang pada awal abad ke 19.

 

Koran Berbahasa Melayu

Koran berbahasa Indonesia atau tepatnya Melayu sudah terbit pada tahun 1877, di Padang dengan namanya Bentara Melayu, berukuran kecil dan terbit tiap hari Selasa sejak Juni 1877, dipimpin oleh seorang Indo bernama Arnold Snackey. Ibunya adalah anak Datuk Mudo, salah seorang penghulu di Airbangis. Tidak lama terbitnya, pada akhir tahun 1877 sudah tak terbit lagi.

Tetapi ini mudah dimengerti. Menerbitkan koran dalam bahasa Melayu sedangkan orang Melayu sendiri waktu itu belum banyak bisa membaca tulisan Latin, memang sulit. Orang Belanda sendiri pasti tidak mau berlangganan, apalagi bicara tentang pemasangan iklan.

Rupa-rupanya Snackey telah membicarakan terlebih dahulu dengan pihak gereja untuk bertindak sebagai sponsor. Kalangan gereja ini melihat banyak keuntungan akan bisa dicapai melalui sebuah penerbitan. Mungkin sekali modal pertama didapatnya dari pihak gereja. Menurut sebuah artikel dalam salah satu koran waktu itu timbul percekcokan antara Snackey dan sponsornya hingga Bentara Melayu distop penerbitannya sesudah hidup hanya selama setengah tahun.
 

(Gambar 1.3 Surat kabar Bintang Tionghoa yang terbit sekitar tahun 1914)

 

Dalam bukunya "Sejarah Pers Indonesia" karangan Abdurrachman Surjomihardjo disebut bahwa surat kabar yang tertua berbahasa Melayu adalah Bintang Pertama yang disebutkan terbit di kota Padang tahun 1871. Tetapi kebenarannnya sulit ditelusuri selain karena tidak ada satupun eksemplar yang tersisa, surat-surat kabar lain di kota Padang tidak pernah menyebut apapun tentang keberadaannya padahal biasanya surat kabar waktu itu sering sekali menyerang artikel-artikel atau paling sedikit memberi komentar pada surat kabar yang lain.

Bentara Melayu, Pelita Kecil, Warta Berita dan lain-lain pada saat ini tidak dapat dilihat contohnya. Tetapi kita tahu bahwa koran-koran itu memang pernah terbit berkat surat kabar lain yang menulis. Oleh karena itu agak diragukan apakah Bintang Pertama itu betul-betul pernah terbit di Padang, kira-kira 6 tahun sebelum Bentara Melayu atau mungkin hanya salah cetak dan tidak di kota Padang, tetapi di tempat lain.

Sebuah lagi surat kabar tua berbahasa Melayu, di bawah pimpinan pribumi asli walaupun masih diterbitkan oleh seorang Belanda, ialah Pelita Kecil terbit untuk pertama kalinya tanggal 1 Februari 1886. Pemimpinnya Mahyuddin Datuk Sutan Marajo. Penerbitnya (H.A. Mess) ialah pemimpin umum harian Sumatera Courant.

Kelompok Sumatera Courant tadi, tahun 1892 menerbitkan lagi surat kabar berbahasa Melayu yaitu Pertja Barat di bawah pimpinan Ja Endar Muda. Awal abad ini Ja Endar Muda pernah pula memimpin koran berbahasa Batak, Tapian na Uli yang diterbitkan oleh penerbit yang sama. Di samping itu Ja Endar Muda juga memimpin surat kabar berbahasa Belanda yaitu Sumatera Nieuwsblad pada tahun 1904. Ja Endar Muda aktif dalam bidang penerbitan antara lain: Editor Padang's Insulinde, sebuah buku pelajaran bulanan berbahasa Melayu untuk para guru, duduk dalam dewan editor surat kabar Alam Minangkabau, di Medan ia juga menerbitkan Pewarta Deli.

Sayang, kedua penerbitan ini tidak bertahan lama. Harian Sumatra Bode yang dipimpinan Paul Baumer tahun 1897 juga menerbitkan koran berbahasa Melayu, yaitu Tjaja Sumatra, pada permulaan pimpinan redaksi dipegang oleh Lim Soen Lin dan terus terbit hingga serbuan Jepang.

 

Koran Indonesia Pertama
 
Pada tahun 1901, Datuk Sutan Marajo bersama adiknya bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberinya nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Indonesia (bahasa Melayu dengan huruf Latin) dimiliki dan redakturnya orang Indonesia.
 

(Gambar 1.4 Datuk Sutan Marajo ialah salah seorang pelopor pers di Minangkabau)

 
Modal pertama didapat dari seorang pedagang terkenal di Padang waktu itu, Abdul Manan Sutan Marajo. Koran ini dicetak secara sederhana di daerah Pasarmudik. Pemimpin redaksinya Datuk Sutan Marajo yang juga pernah menjadi jaksa sebentar di Pariaman. Datuk Sutan Marajo terkenal sebagai seorang otodidak dengan pena cukup tajam terutama sewaktu dia memimpin Utusan Melayu. Dia sangat ahli dalam modernisasi yang dibawa Belanda terhadap kaum ortodoks apalagi yang menamakan diri "kaum bangsawan". Mahyudin Datuk Sutan Marajo lahir kira-kira tahun 1858 di Sulitair, meninggal dan dikebumikan di Padang bulan Juni 1921.
 

(Gambar 1.5 Surat kabar Utusan Melayu yang merupakan surat kabar berbahasa melayu)

 
Kalau ingin bicara mengenai koran nasional (diterbitkan dan dipimpin oleh pribumi asli, orang Indonesia), maka Warta Berita ini termasuk tertua di tanah air kita. Sayang, umurnya tidak begitu panjang, kurang dari 10 tahun.

Datuk Sutan Marajo pernah dihukum denda 100 gulden atau kurungan 15 hari karena tulisannya pada tanggal 23 Februari 1892 mengenai nasib rakyat kecil dan karena sebuah tulisannya tentang Aceh namun untuk yang terakhir ini Datuk Sutan Marajo divonis bebas. Abas Sutan Mantari dari Bukti Tinggi juga pernah mengalami hal serupa karena tulisannya tanggal 26 Desember 1890 yang dianggap menghina seorang kontrolir di Kabupaten Agam.

 

Koran Melayu lain di Indonesia

Sebelum Arnold Snackey mengeluarkan Bentara Melayu yang berbahasa Melayu dan murni beraksara Latin pada tahun 1877, di Hindia Belanda sudah atau pernah terbit tujuh buah surat kabar berbahasa Melayu dengan huruf Latin yaitu enam di Pulau Jawa dan satu di Manado. Tetapi tidak satupun yang dipimpin oleh bangsa kita, apalagi menjadi penerbitnya.

Malahan kedua surat kabar yang terbit di Solo dan berbahasa Jawa, Bromartani dan Juru Martani, bukan diterbitkan oleh pribumi.

Salah satu surat kabar tertua yang berbahasa Melayu terbit di Surabaya, yakni Bintang Timur semenjak 1862. Koran ini terbit satu kali seminggu dipimpin oleh seorang penerjemah resmi waktu itu, bernama Van den Berg. Akhir tahun 1860-an kabarnya ada pula sebuah surat kabar lagi di Surabaya dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh E. Fuhri & Co. Tetapi sayang, tidak ada keterangan lebih banyak

Lange, seorang Indo, pada tahun 1858 menerbitkan Soerat Khabar Batawi. Tetapi masih berupa campuran huruf Arab, separo Latin. Surat kabar ini terbit tiap hari Sabtu dan hanya sanggup bertahan selama tiga bulan saja dengan terbitan terakhir bernomor 26 Juli 1858.

Juga di Betawi pada tahun 1868 terbit surat kabar Bintang Barat, dipimpin seorang Indo bernama E.F. Wiggers dan dicetak oleh Ogilvie & Co dan mulai 1891 menjadi harian. Akhirnya masih ada satu lagi yang terbit berbahasa Indonesia dengan huruf Latin di Betawi, yaitu Hindia Nederland. Pemimpin redaksinya Indo asal Padang bernama L. Wollfe yang juga dibantu oleh istrinya dan diicetak oleh Van Dorp, terbit dua kali seminggu.

Di Semarang semenjak 1876, pihak gereja Protestan mengeluarkan Slompret Melayu yang terbit tiap Sabtu. Pemimpin redaksinya bernama W. Hoe-zoo, dicetak oleh Van Dorp. Koran lain yang juga diterbitkan golongan gereja ialah Bintang Johar di Betawi, sekali seminggu. Mungkin nomor perdananya muncul sekitar tahun 1870. Yang aneh ialah pemimpinnya seorang Inggris bernama Crawford yang pernah berdiam di Singapura ini kabarnya selama Perang Aceh mengusulkan agar Pemerintah Hindia Belanda melepas saja seribu tukang jagal asal Maluku ke sana supaya cepat selesai.

Itulah keenam surat kabar di Pulau Jawa, bersamaan atau sedikit lebih dahulu dari Bentara Melayu asuhan Arnold Snackey di Padang. Di luar Pulau Jawa yang tertua ialah yang dikeluarkan golongan gereja yakni Cahaya Siang di Manado yang mulai terbit semenjak tahun 1869.

Bianglala di Betawi yang juga dicetak oleh Ogilvie & Co pada tahun 1870-an memang tua, tetapi lebih bersifat majalah dan terbit sekali 2 minggu.

jadi sangatlah jelas bahwa kota Padang pada bagian kedua abad 19 memang memegang peranan dalam media massa satu-satunya waktu itu, baik dalam bahasa Belanda yang terbit sejak 1859 maupun bahasa Indonesia yang terbit sejak 1877.

Ketiga penerbitan (Bentara Melayu, Pelita Kecil, dan Warta Berita) tidak terdapat di Perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Kedua koran di Betawi Hindia Nederland dan Bintang Barat sejak 1871 mempunyai wartawan mereka di Padang yang bernama Jamin Bandaro Sutan.

 

Koran Berbahasa Melayu di Belanda

Surat kabar berbahasa Melayu dan beraksara Latin tidak hanya terbit di Indonesia tetapi juga di Belanda. Pada tahun 1856 di Rotterdam terbit sebuah surat kabar dengan mana Bintang Utara dengan redaksi bernama Dr. P.P. Roorda van Eysinga. Meskipun isinya sulit dimengerti karena banyak bercampur dengan kosa kata Arab tetapi surat kabar ini paling sering memuat kisah-kisah dari Seribu Satu Malam.

Pada tahun 1890 di Amsterdam juga pernah terbit koran berbahasa Melayu dengan nama Pewarta Boemi dengan redaksi seorang mantan asisten residen Y. Strik yang waktu itu berprofesi sebagai guru bahasa Melayu disekolah pertanian.

Pada tahun 1902 masih di Amsterdam terbit juga sebuah surat kabar dengan nama Bendera Wolanda yang kemudian diganti menjadi Bintang Hindia dengan penerbit bernama H.C.C. Clockener Brousson. Dua orang pelajar dari Indonesia waktu itu duduk sebagai redaksinya yaitu A. Rivai dan R.A.A. Kusumo Yudo.

Letnan Clockener Brousson ini juga pernah memimpin surat kabar Soerat Chabar Soldadoe yang ditujukan khusus pada tentara Hindia Belanda keturunan Ambon yang sempat cukup populer dan akhirnya berhenti diterbitkan karena alasan yang tidak jelas. Clockener ini menurut surat kabar di Haarlem pada November 1902, mengubah agamanya menjadi Islam supaya dapat memperlancar urusannya di Indonesia.

Pada tahun 1877, di Singapura juga telah terbit tiga surat kabar berbahasa Melayu dengan tulisan Arab yaitu Wazir India yang juga diterbitkan di Batavia.


Kisah dan Jasa Arnold Snackey

Pada zamannya, dia adalah satu - satunya orang di Padang yang berusaha keras menyelidiki dan mendalami sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Sebelum dan sesudah dia menerbitkan Bentara Melayu, Arnold Snackey sering sekali menulis tentang bahasa, sejarah, dan kesusasteraan Minang. Antara lain dialah yang banyak menerjemahkan "kaba" yang begitu populer di antara rakyat.

Dia pula yang menerjemahkan "Permulaan Berdirinya Pohon" yang dianggap sejarah paling lengkap semenjak Belanda dengan VOC-nya sampai di Padang hingga zaman pendudukan Inggris. Dia juga banyak menulis sejarah bersumberkan cerita - cerita lisan, menampilkan syair dan pantun khas Minang dan tentu saja Cindur Mato.

Dia pula yang pernah menerjemahkan syair-syair Multatuli dan dia menguasai bahasa Melayu dengan cukup baik. Arnold Snackey juga berjasa melalui wawancaranya dengan orang-orang tua waktu itu, mengungkapkan sedikit latar belakang hidup di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang sejak awal abad ke-19. Begitu pula tentang orang-orang yang menjalankan peranan selama Perang Paderi.

Dia pula yang menerbitkan brosur kecil di Betawi tahun 1888, berjudul "Syair Sunur". Walaupun begitu, namanya tak pernah didengar, apalagi penghargaan atas semua karyanya. Mungkin ini disebabkan karena dia bukan pegawai pemerintah, mungkin pula karena dia tidak tergolong ahli sejarah.

Siapa pula yang mau memperhatikan seorang Indo walaupun sering menulis, di suatu ternpat kecil di pantai barat Pulau Sumatera. Waktu itu, untuk mendapat pengakuan, orang harus mengadakan penyelidikan mendalam, mengarang buku-buku tebal, tidak sekedar menulis karangan-karangan di koran. Sekarang, tentu lain!

Namun jasa-jasanya bagi sejarah dan kebudayaan Minang, patut mendapat perhatian. Sebagai keluarga khas Indo di Padang yang menyandang nama Snackey, bertebaran dimana-mana menduduki tempat - tempat khas disediakan untuk kaum Indo.

Inilah riwayat keluarga Snackey di Sumatera Barat. Seorang bernama A.A. Snackey pernah menjabat panitera (Griffier) di kantor pengadilan Batusangkar dan kemudian pindah ke Balaiselasa pada tahun 1773. Seorang lagi, JG Snackey mencapai pangkat cukup lumayan yakni Kepala Kantor dibawah Sekretaris Gubernur Sumatera Barat sekitar awal tahun dua puluhan. Dia memulai kariernya di kantor polisi Padang dan sekitarnya. Dan seorang lagi A.V. Snackey pernah komis di Painan, kemudian dipindah ke kantor Residen Padang Darek di Bukit Tinggi tahun 1887.

 

Sumber:

http://www.pelaminanminang.com



posted by FerryHZ at 11:54 PM | Permalink | 0 comments
Marie Curie (1867-1934), wanita pertama peraih Nobel
Mengorbankan hidupnya demi ilmu pengetahuan


Ferry Herlambang


Marie Curie adalah wanita pertama yang menerima hadiah Nobel sekaligus orang pertama yang memenangkan hadiah Nobel sebanyak dua kali untuk dua bidang keilmuan yang berbeda. Curie menciptakan istilah “radioactive” untuk menggambarkan emisi uranium yang dia teliti pada awal percobannya. Bersama suaminya, kelak dia menemukan dua unsur kimi yaitu polonium dan radium. Dedikasi dan kerja kerasnya pada ilmu pengetahuan harus di balas dengan hidupnya, dia meninggal karena terkena radiasi terus-menerus.

Marie Curie, warga negara Perancis kelahiran Polandia, ahli kimia yang bersama suaminya Pierre Curie (yang juga penerima Nobel) adalah peneliti awal mengenai radioaktif. Suami istri Curie berbagi hadiah Nobel tahun 1903 untuk bidang fisika dengan seorang ahli fisika Perancis lainnya, Antoine Henri Becquerel untuk penelitian dasar bagi radioaktiv. Marie Curie kemudian mempelajari kimia dan aplikasi radium untuk kedokteran.

Dia memperoleh penghargaan Nobelnya yang kedua tahun 1911 di bidang kimia untuk penemuannya akan radium dan polonium dan keberhasilannya mengisolasi radium.

Nama gadis Marie Curie adalah Maria Skłodowska, dan nama panggilannya ketika beranjak dewasa adalah Manya. Dia lahir di Warsawa tepat pada saat Polandia berada di bawah dominasi Rusia. Orang tuanya adalah guru, tetapi setelah Manya (anak kelima) lahir, mereka kehilangan pekerjaannya.

Prestasi sekolah Manya tidak begitu menonjol. Saat itu, jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak tersedia bagi kaum wanita, sehingga akhirnya dia menjadi seorang guru TK. Dia mengirimkan sebagian gajinya ke Paris untuk membantu kakak perempuannya menyelesaikan sekolah kedokterannya.

Setelah sang kakak lulus dan menikah, Manya menyusul kakaknya ke Paris dan mengganti namanya menjadi Marie. Kemudian dia masuk ke universitas Sorbonne (sekarang Universities of Paris) untuk mempelajari fisika dan matematika, lulus terbaik di kelasnya.

Tahun 1894 dia bertemu dengan ahli kimia Perancis, Pierre Curie, dan menikah setahun kemudian.

Mulai tahun 1896, suami istri Curie bekerja bersama meneliti radioaktiv, mencoba memperbaiki hasil temuan ahli fisika Jerman Wilhelm Roentgen (penemu X rays) dan Henri Becquerel (yang menemukan radiasi pada garam uranium). Hasil kerja mereka kemudian mengantarkan mereka pada penghargaan Nobel.

Pada bulan Juli 1898, mereka menemukan unsur polonium, dan pada bulan Desember di tahun yang sama mereka menemukan unsur radium.

Tahun 1906 Marie menggantikan suaminya mengajar di universitas Sorbone setelah sang suami meninggal karena tertabrak kereta kuda. Dia menjadi wanita pertama yang mengajar di sana. Dia mencurahkan semua enerji dan konsentrasinya untuk melakukan penelitian sekaligus membesarkan anak perempuannya. Kelak Anak perempuan tertua Marie Curies, Irene, akan menikah dengan Frédéric Joliot dan menjadi ilmuwan terkenal sekaligus pemenang hadiah Nobel.

Tahun 1910 Marie bekerja sama dengan ahli kimia Perancis, André Debierne untuk mengisolasi logam murni radium. Pihak universitas memberikan dukungan dengan membangun Institut du Radium (sekarang Institut Curie) tahun 1914.

Selama masa PD I, Marie Curie menciptakan peralatan tambahan untuk ambulan berupa peralatan X-ray, dia sendiri bahkan ikut mengendarai ambulan tersebut ke garis depan.

Tahun 1920-an kesehatannya mulai menurun karena penyakit leukemia akibat terlalu sering terkena energi radiasi dalam jumlah besar. Dia di rawat di sebuah sanatorium di Haute Savoie dan meninggal di sana pada bulan 4 Juli 1934. Selama hidupnya, Marie Currie hidup dalam kesederhanaan dan menolak untuk mendapatkan hak paten bagi temuan dan karya ciptannya. Dia berkeinginan agar temuannya bisa berguna bagi semua orang secara bebas. Semua uang hadiah termasuk dari hadiah Nobel dia gunakan untuk membiayai penelitian.

Salah satu aplikasi paling berguna dari hasil penelitiannya adalah penggunaan radiasi untuk pengobatan kanker, penyakit yang merenggut nyawanya.


Biografi singkat

Lahir

November 7, 1867

Meninggal

July 4, 1934

Tempat lahir

Warsawa, Polandia

Di kenal sebagai

Pioner bagi penelitian radioktiv dan penemu unsur radium and polonium

Memenangkan hadiah Nobel tahun 1903 bersama suaminya, Pierre Curie, dan Antoine Henri Becquerel pada bidang fisika

Memenangkan hadiah Nobel tahun 1911 pada bidang kimia

Karir

1891 Kuliah di Sorbonne (sekarang Universitas Paris) mempelajari fisika dan matematika

1898 Menemukan unsur yang mengandung radioaktif, radium dan polonium bersama suaminya, Pierre Curie

1903 Menerima gelar doktoral bidang fisika dari Sorbonne

1906 Menjadi professor dan menjadi wanita pertama yang mengajar di Sorbonne

1914 Melengkapi ambulan dengan peralatan X-ray gunakan pada PD I

1918-1934 Menjadi direktur pada departemen Research di institut Radium, Universitas Paris



Fakta singkat

- Marie Curie adalah wanita pertama yang mengajar di universitas Sorbonne di Paris, dan wanita pertama yang menerima hadiah Nobel serta orang pertama yang menerina dua Nobel untuk dua bidang berbeda.

- Marie Curie meninggal karena leukemia akibat terlalu sering kontak dengan benda yang mengandung radioaktif. Buku catatan yang dia gunakan masih mengandung radioaktif sampai sekarang.

- Anak perempuan Marie Curie, Irène Joliot-Curie, memenangkan Hadiah Nobel tahun 1935 di bidang kimia.

- Unsur kimia curium, yang di temukan tahun 1944, di beri nama Curie sebagai penghargaan bagi Marie dan suaminya, Pierre.


Dari berbagai sumber



posted by FerryHZ at 10:45 AM | Permalink | 0 comments
Saturday, March 29, 2008
9 penulis penghasil 2 novel terbaik sepanjang masa versi majalah TIME

Majalah TIME pernah mengeluarkan daftar 100 novel berbahasa Inggrie terbaik sepanjang masa yang di keluarkan sejak tahun 1923.

Diantara daftar tersebut, tercatat 9 orang penulis yang novelnya masuk pada peringkat 100 novel terbaik.

9 penulis tersebut beserta hasil karyanya antara lain adalah:

  1. Evelyn Waugh (Brideshead Revisited dan A Handful of Dust)
  2. George Orwell (1984 dan Animal Farm)
  3. Graham Greene (The Heart of the Matter dan The Power and the Glory)
  4. Philip Roth (American Pastoral dan Portnoy's Complaint)
  5. Saul Bellow (The Adventures of Augie March dan Herzog)
  6. Thomas Pynchon (The Crying of Lot 49 dan Gravity's Rainbow)
  7. Virginia Woolf (Mrs. Dalloway dan To the Lighthouse)
  8. Vladimir Nabokov (Lolita dan Pale Fire)
  9. William Faulkner (Light in August dan The Sound and the Fury)



George Orwell sebagai over majalah TIME tahun 1984



posted by FerryHZ at 8:25 PM | Permalink | 0 comments
Friday, March 28, 2008
Daftar novel 2000-2005


Daftar novel bestseller di Amerika yang dikeluarkan oleh Publishers Weekly. Daftar di bawah ini adalah novel terlaris dari tahun 2000 sampai 2005.

Novel dengan lanjutan, trilogi dan semacamnya, tidak tercatat di daftar ini.

Semoga bisa menjadi bahan pembelajaran.


=======================================================================


2000

1. The Brethren by John Grisham

2. The Mark: The Beast Rules the World by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

3. The Bear and the Dragon by Tom Clancy

4. The Indwelling: The Beast Takes Possession by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

5. The Last Precinct (novel) by Patricia Cornwell

6. Journey by Danielle Steel

7. The Rescue by Nicholas Sparks

8. Roses Are Red by James Patterson

9. Cradle and All by James Patterson

10. The House on Hope Street by Danielle Steel

2001

1. Desecration by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

2. Skipping Christmas by John Grisham

3. A Painted House by John Grisham

4. Dreamcatcher by Stephen King

5. The Corrections by Jonathan Franzen

6. Black House by Stephen King and Peter Straub

7. The Kiss by Danielle Steel

8. Valhalla Rising by Clive Cussler

9. A Day Late and a Dollar Short by Terry McMillan

10. Violets Are Blue by James Patterson

11. Blindsighted by Karin Slaughter

2002

1. The Summons by John Grisham

2. Red Rabbit by Tom Clancy

3. The Remnant by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

4. The Lovely Bones by Alice Sebold

5. Prey by Michael Crichton

6. Skipping Christmas by John Grisham

7. The Shelters of Stone by Jean M. Auel

8. Four Blind Mice by James Patterson

9. Everything's Eventual by Stephen King

10. The Nanny Diaries by Emma McLaughlin and Nicola Kraus

2003

1. The Da Vinci Code by Dan Brown

2. The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom

3. The King of Torts by John Grisham

4. Bleachers by John Grisham

5. Armageddon by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

6. The Teeth of the Tiger by Tom Clancy

7. The Big Bad Wolf by James Patterson

8. Blow Fly by Patricia Cornwell

9. The Lovely Bones by Alice Sebold

10. The Wedding by Nicholas Sparks

2004

1. The Da Vinci Code by Dan Brown

2. The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom

3. The Last Juror by John Grisham

4. Glorious Appearing by Jerry B. Jenkins and Tim LaHaye

5. Angels & Demons by Dan Brown

6. State of Fear by Michael Crichton

7. London Bridges by James Patterson

8. Trace by Patricia Cornwell

9. The Rule of Four by Ian Caldwell and Dustin Thomason

10. The Da Vinci Code: Special Illustrated Collector's Edition by Dan Brown

2005

1. The Broker by John Grisham

2. The Da Vinci Code by Dan Brown

3. Mary, Mary by James Patterson

4. At First Sight by Nicholas Sparks

5. Predator by Patricia Cornwell

6. True Believer by Nicholas Sparks

7. Light from Heaven by Jan Karon

8. The Historian by Elizabeth Kostova

9. The Mermaid Chair by Sue Monk Kidd

10. Eleven on Top by Janet Evanovich

2006

1. For One More Day by Mitch Albom

2. Cross by James Patterson

3. Dear John by Nicholas Sparks

4. Next by Michael Crichton

5. Hannibal Rising by Thomas Harris

6. Lisey's Story by Stephen King

7. Twelve Sharp by Janet Evanovich

8. Cell by Stephen King

9. Beach Road by James Patterson and Peter De Jonge

10. The 5th Horseman by James Patterson and Maxine Paetro

posted by FerryHZ at 9:10 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, March 27, 2008
Dibalik Sebutan Uncle Sam bagi negara Amerika

Siapakah sebenarnya Paman Sam ?

Ferry Herlambang



Amerika Serikat sering di juluki negara paman Sam, siapakah sebenarnya Paman Sam ? Apakah dia tokoh khayalan atau tokoh nyata ? Ada beberapa versi tentang asal-usul nama Uncle Sam. Terserah versi mana yang anda percayai.


Poster rekruitmen Uncle Sam

Poster yang di buat oleh James Montgomery untuk keperluan recruitmen tentara pada perang dunia pertama, dengan kalimat yang di tulis besar “I WANT YOU,” menjadi salah satu poster terkenal yang mewakili karakter yang saat itu di kenal sebagai Uncle Sam. Gambaran pertama mengenai karakter Uncle Sam muncul pada sebuah kartun politik yang terbit pada tahun 1832.

Kongres Amerika mengadopsi karakter Uncle Sam sebagai simbol nasional pada tahun1961 dan menetapkan nama Samuel Wilson di belakang timbulnya inspirasi simbol tersebut. Samuel Wilson adalah seorang bisnisman dari New York yang juga di kenal sebagai Uncle Sam, biasa menandai barang kirimannya selama perang tahun 1812 dengan inisial United States, U.S. Peristiwa ini secara kebetulan memunculkan penggunaan nama Uncle Sam untuk menyebut pemerintah Amerika.

Selanjutnya, gambaran tokoh Uncle Sam berkembang. Pada abad 20, figure uncle Sam sering di gambarkan sebagai laki-laki dengan topi tinggi, jas berekor, gambar bintang dan garis seperti pada bendera Amerika.

Gambaran profile uncle Sam sebagai seorang Yankee kurus muncul setelah pementasan drama yang berjudul The Contrast oleh Royall Tyler pada tahun 1887.

Selanjutnya karakter Uncle Sam sering di pakai untuk kartun dan poster yang menyangkut isu politik dan nasionalisme bangsa Amerika.


Inisial Ulysses Simpson Grant

Jendral Ulysses Simpson Grant adalah jendral besar yang memimpin tentara Union pada perang saudara Amerika. Dia lahir dengan nama asli Hiram Ulysses Grant pada tahun 1822 di sebuah pondok di southwestern Ohio, dekat sungai Ohio.

Grant masuk ke akademi militer West Point pada bulan Mei 1839. Namanya berubaha menjadi Ulysses Simpson Grant karena kesalahan saat menuliskan namanya. Teman-teman sekelasnya memanggilnya U.S.,””Sam,” dan “Uncle Sam” Grant. Selama dalam masa pendidikan, Ulysses Simpson Grant menunjukkan kemampuan yang hebat sebagai seorang penunggang kuda dan matematika. Kerja keras dan disiplinnya melebihi teman-teman kadetnya.


posted by FerryHZ at 9:05 PM | Permalink | 0 comments
Wednesday, March 26, 2008
Kisah-kisah Alcatraz dan Nusa Kambangan



Pulau karang yang gersang nun jauh di tengah samudra pantai barat Amerika Serikat (AS) itu secara fisik sesungguhnya tak punya daya tarik apa-apa. Tapi, setelah mendengar -Alcatraz, orang baru sadar, nama itu memang tersohor sebagai penjara paling ditakuti oleh para narapidana.

Alcatraz dikenal sebagai pulau pembua ngan bagi penjahat-penjahat kelas berat di Amerika Serikat, di antaranya dedengkot mafia yang melegenda Al Capone. Sebagai penjara pulau terpencil yang dipagari lautan dalam yang luas dan ganas itu memang sangat mustahil ditaklukkan oleh para penghuninya yang ingin kabur.

Tapi, para penjahat yang ingin hidup di alam bebas berupaya menempuh berbagai cara guna keluar dari neraka Alcatraz. Misalnya, dengan berenang secara nekat dengan peralatan seadanya. Walhasil, entah berapa ratus narapidana yang tak ketahuan nasibnya setelah ditelan ganasnya laut beserta ikan buasnya, sejak cerita pelarian itu tercatat.

Bahkan, seseorang di antara mereka pernah membuat sebuah terowongan bawah tanah terarah ke luar dengan panjang berpuluh-puluh kilometer. Nah, inilah antara lain asal-usul ketenaran Alcatraz, apalagi setelah kisah kehidupan penjara khusus itu difilmkan sekian kali sejak tahun 1960-an.

Tapi, kisah penjara "angker" itu kini tinggal kenangan. Sebab, sekarang orang-orang malah berebutan ingin masuk ke sana. Maka, Alcatraz tercatat sebagai salah satu objek wisata yang tak pernah sepi dari serbuan wisatawan dari mancanegara.

Rupanya, belajar dari pengalaman pengelolaan kepariwisataan di negeri Pam Sam itu, pihak yang terkait di Tanah Air menggodok gagasan untuk menjadikan pulau Nusakambangan sebagai objek wisata. Maka, suasana kehidupan penjara yang sangat terisolasi itu akan bisa
disaksikan di Indonesia.

Pulau yang terletak di pantai selatan Pulau Jawa itu, selama ini namanya cukup angker karena dikenal sebagai tempat pembuangan penjaha-penjahat nomor wahid Tanah Air. Narapidana yang pernah mampir ke sana, pasti klasifikasinya sebagai penjahat kelas kakap atau pelaku tindak pidana yang diganjar hukuman berat.

Sama dengan Alcatraz, pulau tersebut juga terisolasi. sekitar Lembaga Pemasyarakatan (LP) di situ, masih terdapat ribuan hektare hutan yang masih perawan dengan binatang buasnya. Kalaupun bisa menembus hutan, si penjahat yang ingin lolos juga mesti menembus laut dan gelombang pantai selatan yang dikenal ganas.

Tapi, seperti yang terjadi di Alcatraz, narapidana di Nusakambangan juga selalu ada yang mencoba melarikan diri. Kisah-kisah mencengangkan dan nekat tentang pelarian yang melawan akal sehat itu sudah banyak beredar di kalangan masyarakat.

Misalnya, konon ada yang berenang de- ngan merangkai buah kelapa atau dengan cara mengayuh gelondongan kayu, menempuh jarak dengan waktu berminggu-minggu, ada yang harus berputar-putar di hutan perawan karena tersesat sampai berhari-hari yang ujung-ujungnya akhirnya tertangkap kembali oleh pihak keamanan.



Kisah Johny Indo dan Kusni Kasdut

Tapi, entah berapa narapidana yang kabarnya hanya tinggal nama, atau pihak keamanan yang mengejarnya akhirnya hanya menemukan sisa-sisa pakaian yang tercabik-cabik, bekas gigitan binatang buas. Yang paling populer adalah kisah pelarian Johny Indo. Mantan bintang film laga itu dijebloskan ke Nusakambangan belasan tahun silam setelah ditangkap petugas keamanan karena terlibat dalam sejumlah aksi perampokan toko emas. Menurut catatan, Johny yang memang bertampang Indo itu nekat melarikan diri dengan sejumlah temannya, karena teringat-ingat akan nasib anak dan istrinya di Jakarta.

Pelarian napi populer dan kawan-kawannya itu tentu saja membuat kalang kabut pihak keamanan di seluruh daratan Jawa. Petugas disebar ke seluruh kawasan yang diduga akan disinggahi para pelarian. Sedang, pasukan pemburu menyisir seluruh kawasan pantai dan hutan sekitar Nusakambangan.

Aksi perburuan selama berhari-hari itu tiap hari dapat liputan khusus dari pers, karena agaknya masyarakat juga selalu ingin tahu akhir kisah yang mendebarkan itu. Apa lagi dalam proses pencarian tersebut, petugas kadang-kadang hanya menemukan jejak atau sobekan pakaian.

Ketika itu disimpulkan sejumlah pelarian sudah dimangsa binatang buas yang diketahui banyak berkeliaran atau mati lemas kelelahan dan kelaparan karena harus lari-lari menghindar dari kejaran petugas yang mengerahkan helikopter dan kapal cepat. Sedang, di darat anjing
pelacak tak henti-hentinya terdengar menyalak.

Setelah sekian minggu, akhirnya seperti diduga, Johny Indo tertangkap tak jauh dari kawasan yang sulit diterobos itu. Tapi, tak urung kisah pelarian si bintang film tersebut menambah terkenal nama Nusakambangan. Dalam sejarahnya, liputan pers atas kehidupan seorang
napi, kisah Johny Indo hanya ditandingi oleh liputan atas penjahat legendaris, Kusni Kasdut.

Bedanya, Johny Indo yang kini dikenal sebagai pengusaha batu mulia di Jakarta, begitu lepas menjalani hukuman penjara, sempat kembali berakting memerankan dirinya sendiri di film yang judulnya Kisah Pelarian Johny Indo.

Sedang, Kusni Kasdut yang dituntut hukuman mati atas segala tindak kejahatan yang dilakukannya, hidupnya berakhir di ujung peluru, setelah dieksekusi oleh regu tembak pada akhir tahun 1970-an.







Sumber:
http://www.hamline.edu


posted by FerryHZ at 10:35 PM | Permalink | 0 comments
Tuesday, March 25, 2008
Lucky Luke, komik legendaris sepanjang masa


Ferry Herlambang


Salah satu komik hebat dengan tokok koboi penyendiri, Lucky Luke dan kudanya yang bernama Jolly Jumper. Berhadapan dengan gerombolan penjahat bersaudara uang menjadi musuh abadinya, Dalton bersaudara; Joe, Jack, William dan Averell, yang ditemani oleh Rantanplan, anjing paling bodoh sedunia.

Alur ceritanya klasik layaknya jago-jago tembak dunia barat seperti Billy the Kid, hakim Roy Bean dan Jesse James. Tetapi tokoh Lucky Luke, yang sanggup menembak lebih cepat daripada bayangannya, adalah tokoh pembela kebenaran, memerangi kejahatan dan selalu berhasil.

Komik ini di ciptakan oleh komikus Belgia bernama Morris (Maurice the Bevere, 1923-2001) smeentara skrip cerita pada awalnya di kerjakan oleh Frenchman René Goscinny (1926-1977). Setelah kematian Goscinny, beberapa penulis lain mencoba menggantikannya. Tetapi belum ada yang berhasil menandingi keberhasilan komik ini ketika di tulis olehnya.

Nama tokoh-tokoh cerita berdasarkan negara

Nama Lucky Luke, Rantanplan dan Dalton berasudara menjadi berbeda sesuai dengan kebiasaan dan lidah masyarakat setempat.


Perancis: Lucky Luke; Rantanplan; Les Dalton

Argentinia: Lucky Luke; Rataplán; Los Dalton

Catalan: Lucky Luke; Ran-tan-plan; Els Dalton

Croatia: Lucky Luke; - ; Braca Daltona

Checnya: Stastný Luk

Denmark: Lucky Luke; Ratata ; Dalton-brødrene

Belanda: Lucky Luke; Rataplan; De gebroeders Dalton

Inggris: Lucky Luke; Rin Tin Can; The Dalton Brothers

Finlandia: Lucky Luke; Rantanplan;Daltonin veljekset

Jerman: Lucky Luke; Rantanplan; Die Daltons

Yunani : Luki Luk; Rantanplan; I Daltons

Hungaria: Villam Vili

Islandia: Lukku Láki; Rattati; Dalton bræður

Italia: Lucky Luke; Rataplan ;I Fratelli Dalton

Norwegia: Lucky Luke; Rattata; Brødrene Dalton

Portugis: Lucky Luke; Ran-tan-plan; Os Daltons

Serbia Croasia: Talicni Tom

Spanyo: Lucky Luke; Ran-Tan-Plan; Los Dalton

Slovenia: Srecni Luka

Swedia: Lucky Luke; Ratata ; Bröderna Dalton

Turki: Red Kit; Rin Tin Tin; Dalton Kardesler




Gambar dia ambil dari SINI



posted by FerryHZ at 10:47 PM | Permalink | 0 comments
Sistem Kalender Bangsa Aztec
Kalender tua dengan dua sistem

Ferry Herlambang

Kalender batu Aztec, di ukir dari potongan batu gunung dengan berat lebih dari 22 metric tons, gambaran dewa matahari di bagian tengahnya menggambarkan masa lalu dan masa kini.

Para dewa matahari di kelilingi oleh beberapa bagian cincin, beberapa di antaranya berhias tulisan yang menunjukkan bagian dari perputaran waktu bangsa Aztec.

Kalender Aztec, sistem pengukuran waktu yang di gunakan bangsa Aztec yang menguasai daerah tengah sampai selatan Mexico pada abad 15 sampai awal abad 16. Kalender bagi bangsa Aztec merupakan pusat dari sistem yang rumit untuk acara keagamaan dan acara lainnya termasuk untuk ritual perang dan pengorbanan manusia. Sebagai masyarakat agraris, mereka percaya bahwa ritual dan acara keagamaan dapat memastikan tetap langgengnya proses alam yang berujung pada suburnya tanah pertanian mereka, karena adanya matahari yang bersinar tiap hari dan kembalinya musim hujan.

Masyarakat Aztec menggunakan dua macam sistem kalender, satu kalender dengan putaran waktu 260 hari dan satu kalender lainnya dengan 365 hari.

Kalender 260 hari, di kenal sebagai tonalpohualli (menghitung hari), adalah penanggalan keramat yang biasanya di gunakan oleh para pendeta untuk memprediksikan masa depan. Kalender ini terbagi menjadi 20 periode, masing-masing periode terdiri dari 13 hari. Tiap periode memiliki nama sendiri.

Pada tulisan Aztec (hieroglyphs), tiap periode di tandai dengan sebuah simbol seperti air, kelinci atau pisau batu. Untuk menghitung hari pada tiap periode, mereka mencatatnya dengan menambahkan titik pada hieroglyph untuk tiap hari yang lewat.

Pada kalender dengan sistem 365 hari, merujuk pada waktu yang butuhkan oleh bumi untuk sekali mengitari matahari. Di kenal sebagai xiuhpohualli (untuk menghitung hari dan bulan) atau xihuitl (untuk menghitung tahun), sistem ini di gunakan untuk kepeluan upacara keagamaan yang penting dan kepentingan pertanian seperti waktu tepat bercocok tanam atau saat untuk menuai. Tiap tahun terbagi atas 18 periode, tiap periode terdiri dari 20 hari 5 hari terakhir di anggap sebagai hari yang berbahaya atau hari yang tidak baik. Tiap periode memiliki festival dan perayaan sendiri, biasanya berdekatan dengan acara tahunan yang terkait dengan pertanian. Seperti halnya sistem kalender 260 hari, tanggal di beri tanda dengan huruf dan titik.

Tahun di tandai dengan gambar sepasang tanda dari 4 simbol—kelinci, bambu, rumah dan pisau batu—dengan 1 sampai 13 titik. Untuk menghindari kebingungan antara hari dan tahun, simbol untuk tahun di lingkari dengan tanda bujursangkar, sementara untuk hari di biarkan tetap terbuka. Dengan sistem ini, bangsa Aztecs memiliki 52 nama untuk tahun yang berbeda.
Tiap 52 tahun berakhirnya kedua sistem kalender tersebut di samakan ulang dan menandai berakhirnya 1 abad bagi bangsa Aztec.

posted by FerryHZ at 1:45 AM | Permalink | 0 comments
Monday, March 24, 2008
Sistem kalender Gregorian (Masehi), Yahudi, Islam, dan Hindu


Masehi

Yahudi

Islam

Hindu

(Dasar :  matahari)

(Dasar : kombinasi antara pergerakan matahari dan bulan)

(Dasar : penampakan bulan baru)

(Dasar : bulan)

Januari (31)

Tishri (Sept-Oct) (30)

Muharram (30)

Caitra(Marc/April) 29-30

Februari (28 atau 29)

Heshvan (Oct-Nov) (29 or 30)

Safar (29)

Vaisakha (April-May) (29 or 30)

Maret (31)

Kislev (Nov-Dec) (29 or 30)

Rabiul awal (30)

Jyaistha (May-June) (29 or 30)

April (30)

Tebet (Dec-Jan) (29)

Rabiul akhir (29)

Asadha (June-July) (29 or 30)

Mey (31)

Shebat (Jan-Feb) (30)

Jumada awal (30)

Dvitiya Asadha (certain leap years)

Juni (30)

Adar (Feb-March) (29/30)

Jumada akhir (29)

Sravana(Jul-Ags)29/30

Juli (31)

Adar Sheni (leap years only)

Rajab (30)

Dvitiya Sravana (certain leap years)

Agustus (31)

Nisan (March-April) (29)

Shaban (29)

Bhadrapada (Aug-Sept) (29 or 30)

September (30)

Iyar (April-May) (30)

Ramadan (30)

Asvina(Sept-Oct)(29/30)

Oktober (31)

Sivan (May-June) (30)

Shawwal (29)

Karttika (Oct-Nov)29-30

November (30)

Tammuz (June-July) (29)

Dhu al-Qadah (30)

Margasirsa (Nov-Dec) (29 or 30)

December (31)

Ab (July-Aug) (30)

Dhu al-Hijjah (29/30)

Pausa(Dec-Jan)(29/30)

 

Elul (Aug-Sept) (29)

 

Magha (Jan-Feb) (29 or 30)

 

 

 

Phalguna (Feb-March) (29 or 30)




posted by FerryHZ at 3:36 PM | Permalink | 0 comments