(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Monday, April 21, 2008
(CERPENKU): Dendam jiwa (vila kedua)


Oleh: Ferry Herlambang




Bapak mengintipku dari sela-sela pagar bambu. Wajahnya membulat oleh gembungan pipinya. Bapak melucu. Aku tertawa. Selalu begitu. Dari sela pagar bambu aku dapat melihat kasih sayang bapak.

Lalu bapak melirik belakang tubuhnya. Isyarat adanya godaan yang dia sembunyikan. Aku hafal. Sekarang sedang musim tebu. Aku meminta bedil glagah pada bapak semalam. Pasti bedil glagah.

Aku segera berlari memutari pagar dan mendapati bapak sedang memutar tubuhnya, berusaha menutupi bedil glagah yang disembunyikannya di belakang badan.

Sebelum sampai, tangan bapak telah meraih tubuh kecilku dan melemparkannya ke kedekapannya. Aku terbang. Melayang bersama kegembiraan bayangan bedil glagah menuju dekapan bapakku.

“Sungging putraku,” Teriak bapak. Lalu aku hinggap di pelukannya, bersama dengan keluarnya bedil glagah dari belakang punggung bapak.

Ya, namaku Sungging. Dan bedil glagah hanyalah satu di antara kebahagiaan tak terhitung yang telah diberikan bapak padaku.


ooOOoo


Emak memutuskan kembali ke pelukan Midun bahkan sebelum tanah makam bapak mengering. Warna kuningnya masih menyala sekuning sakit hati bapak dan sakit hatiku. Aku akan mengenang hari itu, siang terik di pemakaman bapak, di sepanjang usiaku.

Aku tidak pergi dari makam bapak setelah acara pemakaman. Masih mendekap nisan kuburan seolah aku memegang kepala bapak. Mencabuti uban yang yang bertebaran di sepanjang kepala bapak. Lalu sore menjelang dan aku masih mencabuti uban bapak. Malam datang ketika aku mulai mengeringkan airmataku dengan tumpukan uban bapak dan tanah kuning pemakaman. Entah sudah berapa hari aku memeluk nisan bapak ketika aku pingsan dan sadar kemudian di balai-balai bambu peraduanku. Suara-suara gaduh tetangga yang menemukan dan menjengukku. Lalu suara keras emak.

“Anak gila, tiga hari menghilang dan bikin repot orang sekampung !!!” Suaranya melengking menjerit-jerit. Aku kembali ke dunia nyata. Ucapan selamat datang emak meyakinkanku.


ooOOoo


Midun, bapak tiri pembunuh bapakku memiliki perawakan gempal. Kulitnya tebal berwarna hitam mengkilap. Lehernya kokoh seperti batang pohon asem. Tangannya kekar dan dia membawa sebilah badik kemanapun dia pergi. Aku tahu badik itulah yang telah membuat lubang di dada kiri bapakku.

Aku tidak tahu darimana dia datang. Aku hanya tahu ketika tiba-tiba dia tersenyum bersama ibu di ruang tamu sehari sebelum kematian bapakku. Lalu sehari setelah kematian bapakku, senyum keduanya semakin lebar.

Lalu Midun menjadi bapak tiriku. Rumah lama bapak di robohkan dan digantikan oleh rumah baru dengan sinar yang lebih menyilaukan mata tetangga. Emak tersenyum bahagia. Tawa dan celotehnya menjadi berbeda. Aku masih mencintai emakku meskipun aku tidak mengenalinya lagi.

Cinta Midun dan emak berbuah Marjuki. Lelaki pengecut yang tumbuh cengeng karena kemanjaan. Lelaki cengeng yang mewarisi sifat licik, pongah dan serakah dari bapaknya. Aku tahu yang harus aku lakukan dengan sifat-sifatnya.

Catat, aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan sifat-sifatnya.

ooOOoo



“Kamu tinggal masuk, Marjuki. Hanya butuh sedikit nyali saja sebelum engkau dapat menikmati indahnya dunia,” setengah berbisik aku membujuk Marjuki.

“Tapi aku takut kang,” Marjuki si anak Midun merajuk. Anak cengeng yang tumbuh karena kemanjaan.

“Bayangkan moleknya tubuh Maryati,” bujukanku makin kuat.

“Ya kang, molek sekali,” matanya m,ulai menerawang. Mata lugu Marjuki sekarang lebih mirip mata binal Midun, bapaknya.

“Bayangkan dinginnya marmer lantai haji Syafei,” aku semakin keras membujuknya.

“Ya, kang. Dingin dan aku selalu menyukai kesejukannya. Aku selalu terlelap jika berbaring disana,” Marjuki mulai berkhayal.

“Bayangkan laju kencang kuda-kuda gagah milih juragan Ridwan.”

“Ahhh, dan dan delman-delman indahnya…”

“Ya, adikku. Delman-delman indah berhias ukiran Jepara nan menawan,”

Dengan sedikit bujukan , adikku si putra Midun telah kehilangan kemanjaannya. Tetapi di antara semua bujukanku, kemolekan tubuh Maryatilah yang paling menggodanya. Aku tahu pasti.

Aku juga tahu pasti siapa Maryati. Setiap detil tubuh dan lekuknya. Setiap sifat, sikap dan kebiasaannya.

Catat baik-baik, aku tahu pasti siapa Maryati.


ooOOoo


Kampung kami terletak di indahnya pegunungan dan hutan-hutan pinus. Di ujung gunung, tepatnya di puncaknya, adalah perkampungan baru milik orang-orang kota. Keindahan dan ukuran rumah-rumah di ujung gunung sungguh mencengangkan. Mereka menyebutnya vila. Sebagain besarnya berwarna putih dan terlihat menyembul bahkan ketika halimun datang.

Dari kampung kami, rumah-rumah indah itu bak kahyangan tempat para dewa dan dewi berkumpul. Di pagi hari, kami selalu membayangkan bagaimana dewa dewi menyesap minuman dari saripati halimun dan embun-embun dari pucuk pinus. Sebagian dari kami tertawa dengan khayalan-khayalan seperti itu.

“Mereka hanyalah orang kaya, Sungging. Bukan dewa atau dewi seperti yang ada di otakmu,” kata Sarjito temanku. Dia memang sering berlalu lalang di sana. Sebagai maling tentunya.

“Kamu mau bekerja disana?” Tanyanya tiba-tiba.

“Bekerja sebagai apa?” Aku tersentak oleh pertanyaannya.

“Tukang kebun, membersihkan dan merapikan tanaman di dunia kayangan,” Sarjito masih mentertawakan pendapatku soal kaum dewa.

Seketika aku menyanggupinya. Dan untuk pertamakalinya, aku memandang Sarjito bukan sebagai maling. Tetapi sebagai jembatan indah menuju kayangan para dewa.

Karena tawaran Sarjito ini akan mengubah hidupku untuk selama-lamanya. Memadamkan dendam yang telah mengakar dan beranakpinak di setiap sel tubuhku.

Catat, tawaran Sarjito akan menjadi penuntas dendamku.


ooOOoo

Aku memulai pagiku dengan keriangan. Bayangan keindahan swargaloka berupa bangunan-bangunan putih menyembul di ujung gunung telah membedakan duniaku sebelumnya. Aku akan bertemu dengan dewa dan dewi hari ini. Di hari pertama aku bekerja.

Aku berangkat ketika cahaya merah pertama matahari terlihat. Lalu sampai di vila kayangan pertama ketika tetes embun terakhir jatuh. Kata Sarjito, vila yang harus aku datangi adalah vila sesudahnya. Terletak lebih tersembunyi dan dianggap tidak pernah ada karena demikian tersembunyi. Kata Sarjito, itu adalah vila dengan banyak rahasia. Aku menganggapnya biasa. Para dewa dan dewi tentu telah terbiasa dengan rahasia-rahasia.

Tetapi aku menemukan lebih banyak rahasia lagi didalamnya. Aku akan menceritakannya nanti, di akhir ceritaku. Aku tidak ingin engkau kehilangan rasa penasaranmu, tetapi aku juga tidak ingin menyimpan rahasiaku. Maka aku berjanji akan menceritakan rahasia-rahasia yang aku temukan di vila kedua ini.

Catat, aku akan menceritakan rahasia di rumah kedua ini nanti, di akhir cerita.


ooOOoo

Hari sabtu sore.

Midun mencium kening ibuku. Aku tahu apa yang sedang dia lakukan, berpamitan pada ibuku untuk menjalankan usahanya di luar kota. Dia akan kembali pulang di hari Senin. Kami, aku dan ibuku, tidak pernah tahu usaha apa yang dilakukan Midun. Ibuku tidak pernah peduli.

Tetapi sejak bekerja mendatangi rumah kedua di area kayangan, aku jadi tahu apa yang dilakukan Midun di hari sabtu sampai Senin.

ooOOoo

Hari Sabtu malam

“Kapan akan kau laksanakan renacanamu, adikku?” tanyaku pada Marjuki.

“Malam ini, kang. Semuanya sudah jelas. Akang sudah memberikan semua rencana matang buatku,” Marjuki menjawab mantab.

“Bagus adikku. Kamu telah memiliki nyali sebesar singa sekarang,” kataku.

“Berkat, akang. Aku sekarang tumbuh menjadi seekor singa”

“Kalau nyarimu surut karena takut, bayangkan keindahan Maryati,” aku memompa semangatnya dengan bayangan-bayangan Maryati.

“Maryati selalu ada di hatiku, akang,” katanya seperti merajuk. Perasaan cintanya tertahan entah oleh apa.

“Rekatkan Maryati di otakmu, adikku,” kataku lagi.

“Aku rekatkan dia di hati dan otakku, akang.”

“Bayangkan dia sedang menunggumu di balik pintu surga.”

“Dia akan selalu menantiku akang. Seperti janji-janjinya.”

“Nikahi dia segera.” Aku makin meberinya semangat.

“Semua yang aku lakukan malam ini, semata-mata karena dia.” Dia memnag bersemngat. Entah oleh bujukanku atau karena bayangan Maryati. Atau karena dua-duanya.

“Kamu rela mati demi dia?”

“Aku rela mati demi dia akang.”

Aku yakin sekarang, Marjuki telah menempatkan Aryati dis ekujur tubuh dan pikirannya. Lalu aku mendorongnya untuk segera berangkat. Aku memberinya bekal sebuah linggis dan sebatang parang tajam.

ooOOoo

Mungkin kamu bertanya-tanya rencana apa yang sedang aku jalankan bersama Marjuki. Baiklah aku akan berterus terang.

Keindahan rumah-rumah di atas kayangan benar-benar mengusik pikiranku. Selalu begitu sejak dulu. Aku selalu mengagumi keindahannya sejak matahari memperlihatkan bayangannya sampai bulan memantulkan sinar ke warna-warna putihnya. Rumah diatas kayangan selalu memberikan keindahan buatku.

Lalu ketika Sarjito memberikan pekerjaan di vila kedua, aku semakin tercengang dengan keindahannya. Aku masuk ke dalamnya dan melihat kecantikan barang-barang tiada tara. Saat itulah aku memiliki keinginan untuk menjadi seorang Sarjito. Seorang maling.

Lalu aku berpikir tentang banyak hal terutama dendam besarku. Lalu aku jadikan diriku seorang maling. Aku ambil sebongkah permata dari vila kedua dan aku tunjukkan pada Marjuki. Marjuki terbelalak bukan kepalang. Matanya membulat memnacarkan cahaya serakah. Lalu aku mulai cewritakan banyak hal padanya. Terutama soal tubuh molek Maryati. Kamu sudah tahu pembicaraanku tentang tubuh molek Maryati, kilau marmer haji Syafei dan kencangnya kuda-kuda juragan Ridwan.


ooOOoo

Emakku meraung-raung. Seisi kampung berlarian oleh suara raungan emak. Aku sedang berada di batas desa kala itu. Mendengarkan raungan emak dari kejauhan dan menunggu matahari condong ke barat. Tentu orang-orang telah berdatangan ketika itu.

Aku beranjak ketika matahari telah benar-benar condong ke barat. Rumahku seperti pasar malam. Orang-orang berkerumun sampai ke pelataran dan jalanan. Mereka menatapku penuh simpati. Raungan emak belum berhenti. Dia menatapku di sela-sela derai air mata tetapi tidak berkata-kata.

Pak lurah mendekatiku, menarik tanganku menuju samping rumah dan menjauh dari kerumunan.

“Sungging anakku,” suara pak lurah demikian lembutnya.

“Bencana sekali lagi melanda keluargamu,” lanjutnya. Aku masih terdiam.

“Midun bapakmu telah tewas di tangan Marjuki. Dan Marjuki sekarang berada di tangan yang berwenang. Tabahkan dirimu, anakku,” aku masih terdiam. Lalu pak lurah meninggalkan aku sendirian. Kini di kesendirianku aku mulai tersenyum.

Aku memang telah rencanakan semuanya, pak lurah. Aku ingin memekik tapi aku putuskan untuk bersedih sekarang.

ooOOoo

Sebentar kemudian aku mendapatkan detil cerita penyebab emak meraung-raung. Marjuki malam itu mengendap-endap memasuki vila kedua. Dia berhasil masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju kamar utama. Persis seperti yang rencanakan.

Di dalam kamar utama, dia menemukan Maryati kekasihnya, sedang berada disana bersama Midun, bapaknya. Darahnya mendidih dan dia segera membunuh Midun tanpa ampun. Maryati berhasil menyelamatkan diri. Tetapi Midun tewas mengenaskan oleh sabetan parang Marjuki. Sang bapak tewas ditangan putra tercintanya

Aku tersenyum.

ooOOoo

Emak meracau sepanjang hari. Kematian Midun dan Marjuki yang mendekam dalam penjara membuatnya limbung dan akalnya menguap terbang. Emak menjadi gila. Racauannya tentang banyak hal. Rahasia-rahasia yang tertutup rapat menjadi terbuka. Termasuk pembunuhan bapakku oleh Midun. Penduduk kampung sekarang mengetahuinya. Simpati berdatangan padaku. Banyaknya tragedi yang menimpaku membuat penduduk desa menyayangi aku lebih dari sebelumnya.

Sekarang, aku laksanakan kewajibanku sebagai anak yang berbakti. Aku urus emakku. Aku tolak semua tawaran pasung yang di tawarkan untuk emak. Aku akan merawat emakku dengan kesungguhan hati dan rasa baktiku. Aku sudah lupakan semua dendamku. Berbakti pada emak adalah tujuanku sekarang.

ooOOoo

O, ya. Aku hampir lupa dengan janjiku. Sebelum aku sibuk dengan urusan emakku, aku akan menceritakan rahasia yang aku temukan di vila kedua. Ketika aku berada di sana untuk menemui sang pemilik, aku hanya menjumpai penjaga tua yang matanya telah kabur katarak.

Aku diperbolehkan masuk dan diajaknya berkeliling. Dia sungguh baik hati. Matanya yang katarak membuat diriku terlihat seperti anak lelakinya. Dia berkata begitu waktu itu.

Di ruang tamu, aku menemukan beberapa foto. Foto-foto yang membuatku terkejut luar biasa. Foto-foto Midun, bapak tiriku,bersama dengan Maryati. Tidak ada satupun yang terlihat biasa. Mereka begitu mesranya.

Kata pak tua penjaga vila, Midunlah pemilik vila itu. Dan Maryati adalah perempuan simpanan yang menemai dia ketika sedsang dibutuhkan. Tpi Midun tampaknya sudah mencintai perempuan itu.

Aku terkejut awalnya, tapi senang setelah mendapatkan sebuah rencana pembalasan dendamku. Bagaimana rencanaku itu berjalan, kamu sudah membacanya di cerita ini.


ooOOoo

posted by FerryHZ at 1:21 PM | Permalink |


0 Comments: