(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Tuesday, October 2, 2007
Aku, tentara yang menanti mati


Aku akan bercerita tentang diriku agar kamu tahu siapa aku sebenarnya. Niatku adalah mengungkapkan kebenaran. Hanya kebenaran. Aku akan bercerita dengan bahasa yang aku tahu karena aku bukanlah ahli bahasa yang pandai berkata-kata. Aku hanyalah seorang kopral yang sedang menghadapi ajal.



Aku kini

Bagian inilah yang paling mengganjal hatiku. Seharusnya menyenangkan, tapi tidak bagi seorang kopral tua yang sedang menghadapi kematian. Aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran dan dikenang karena kebenaran itu. Karena ketika seseorang berada di ambang kematian, hanya kebenaran yang ingin diungkapkan. Percayalah. Setidaknya begitulah bagiku meski kebenaran memiliki versinya sendiri.

Aku adalah tentara perkasa dan pahlawan perang yang gagah berani, begitu pendapat orang tentangku. Juga pendapat negara tempatku menghabiskan sepanjang usiaku untuk mengabdi. Mengabdi. Aku suka sekali ketika orang-orang menyebutku sebagai pengabdi negara. Berpuluh penghargaan aku terima untuk pengabdianku.

Di dinding ruang tamuku berjajar piagam dan medali penghargaan. Tertata rapi di dalam bingkai-bingkai kaca berpelipit logam sepuhan perak. Foto-fotoku memakai seragam tempur dengan tangan menenteng senjata berada di sela-sela bingkai-bingkai itu. Istriku, dengan kebanggaan sebagai istriku, menata semuanya dengan selera seorang tentara. Ada nuansa gagah pada cara pengaturannya. Ruang tamuku adalah gambaran kebesaran diriku sebagai seorang tentara. Cerita hebat tentang diriku bertambah hebat jika kamu pernah berada di ruang tamuku. Mampirlah kapan-kapan agar kamu mengerti maksudku.

Teman-teman tentara sangat menghargaiku. Dari prajurit rendahan sampai jendral. Aku menjadi panutan dan simbol keberanian. Gambaran bagaimana seharusnya seorang prajurit melekat pada diriku. Cerita-cerita tentang sepak terjang dan keberanianku di medan tempur menjadi perbincangan dan diktat tak resmi di akademi militer.

Begitulah aku saat ini. Kamu masih menyimak ceritaku, bukan? Karena aku belum selesai dengan cerita jujurku.

Aku di masa kecilku

Aku lahir di pinggiran hutan disebuah desa terpencil. Penduduknya sangat terbelakang. Bapak memberiku nama Bejo Prakoso, gabungan antara keberuntungan dan keperkasaan. Entah apa maksud sebenarnya. Bapakku sendiri biasa di panggil Darmin Bindeng karena suaranya yang bindeng.

Bapak tidak pernah mengajariku agama. Kata bapak, nama yang aku sandang bisa menjagaku. Tetapi kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku pergi ke surau juga bersama teman-temanku. Sebagian besarnya untuk menikmati kesenangan berkumpul dan bermain daripada menyimak ajaran-ajaran kyai Badrun.

Aku memang tumbuh dengan banyak keberuntungan. Dan tubuh besarku seolah membenarkan nama Prakoso yang di berikan bapak. Tidak ada anak seusiaku yang berani menentangku karena tubuh besarku. Itu bukan karena aku berani. Aku tidak pernah berkelahi dengan anak yang lebih besar atau sama ukuran tubuhnya denganku. Aku hanya berani berkelahi dengan anak yang lebih kecil ukuran tubuhnya dariku. Aku hanya berani pada anak yang tidak berani padaku. Bahkan di usia kecilku, aku tahu itu sebagai kecerdikan.

Bapak tertawa terbahak-bahak ketika tahu sifatku itu. Katanya, "Nak, kau pantas jadi tentara." Emak tertawa tak kalah kerasnya. Aku tak tahu maksud bapak, tetapi memang begitulah aku akhirnya. Aku jadi seorang tentara.

Perlu kamu ketahui bahwa desa tempatku tumbuh adalah tempat yang benar-benar terpencil. Tidak ada listrik atau televisi. Bahkan tidak pernah ada tentara yang terlihat di desaku.Bagi penduduk desa, tentara adalah sebentuk manusia berseragam dewa. Dan aku, Bejo Prakoso, akhirnya menjadi manusia berseragam dewa.

Begitulah cerita masa kecilku.

Aku dan map biruku

Oh, ya, map biruku. Ini cerita paling penting di bagian ini. Cerita ketika aku masih berada di dinas ketentaraan. Semua yang aku lakukan terbungkus rapi oleh map biru yang akan kuceritakan.

Sifat pengecutku, kamu boleh menyebutnya begitu, makin menjadi-jadi ketika aku menjadi tentara. Bayangan-bayangan perang, kilatan peluru, dentuman meriam dan terutama kematian menghantui dan menjadi mimpi buruk di awal aku menjadi tentara. Seragam dewa yang sekarang aku pakai tidak mampu memberikan tambahan nyali.

Tapi seperti kata bapak, sekali lagi, namaku memberi perlindungan. Aku tidak di tempatkan sebagai prajurit tempur, tetapi sebagai juru masak. Tempat paling aman untuk berlindung dari hantaman peluru dan kejaran kematian. Aku hanya perlu kompor dan lidah. Tidak perlu nyali untuk menjadi seorang koki tentara.

Selanjutnya, kecerdikanku mulai aku gunakan. Sebagai koki dan juru belanja, aku memiliki kebebasan melakukan pengaturan keuangan. Awalnya aku menyunat 10 persen uang belanja dan memasukkannya ke kantongku. Ketika aku lihat para prajurit masih terlihat segar, bugar dan sehat, aku coba memotongnya menjadi 25 persen. Pada titik itulah aku berhenti. Jujur, aku hanya menyunat jatah belanja sebesar 25 persen saja. Dengan hasil potongan itu, aku menjadi kopral dengan gaji jenderal.

Hanya perlu waktu sebentar sebelum aku memiliki rumah, mobil dan perabotan mewah. Sementara teman-teman kopralku, jangankan mobil , memiliki rumah saja masih menjadi angan-angan mewah.

Lalu akal cerdik keduaku muncul ketika aku sambang ke rumah bapak di desa. Seperti yang telah aku kira. aku mendapat sambutan yang luar biasa di desa asalku. Teman-teman masa kecilku berbondong-bondong mengunjungiku. Penduduk desa mengagumi aku.

O, ya akal cerdikku datang tepatnya ketika Marsuli, teman kecilku, datang pada hari kedua kunjunganku. Sekeranjang pepaya di berikannya padaku sebagai oleh-oleh. Marsuli memiliki seorang anak. Lulusan SMP dan ingin menjadi tamtama tentara. Marsuli meminta bantuanku untuk menjadikan anaknya sebagai tentara. Dia memberikan segepok uang besar untukku. Aku tidak menyanggupinya waktu itu. Apa yang bisa di lakukan oleh seorang koki pada permintaan sebesar itu?

Lalu diriku yang lain muncul, mengingatkan kembali akal dan kecerdikan yang aku miliki. Ambil, ambil kesempatan ini, begitu kata diriku yang lain.

"Bagaimana bisa?" Kataku.

"Mudah saja. Ambil uang Marsuli dulu dan biarkan anaknya mendaftar." Kata diriku yang lain.

"Kalau tidak di terima?"

"Jangan kembalikan uangnya jika dia di terima. Kembalikan uangnya jika dia tidak di terima."

"Betul sekali. Ini bisnis tanpa tenaga."

Begitulah akhirnya, aku hanya perlu memberikan info pendaftaran tentara baru. Pemuda-pemuda desa akan berbondong-bondong mendaftar (dan tentu saja menyerahkan sejumlah uang buatku). Sebagian besar dari mereka di terima sebagai tentara dan tentu saja aku mendapatkan uang dari mereka.

Sebetulnya, pemuda-pemuda itu masuk tentara dengan jerih payah mereka sendiri. Aku tidak melakukan apapun untuk kelulusan mereka. Aku hanya menipu mereka dengan berpura-pura mampu membantu kelulusan mereka. Aku hanyalah seorang oknum dengan seragam dewa.

Semua yang aku lakukan pada cerita ini, dapat kamu lihat pada bundel-bundel kwitansi yang tersimpan rapi di map biruku.

Kodok dan aku yang sebenarnya hingga menjadi aku yang sekarang

Inilah bagian terakhir yang ingin aku ceritakan. Kamu dapat menarik kesimpulan dan menilai berdasarkan kebenaran yang aku ceritakan. Sungguh, aku tidak keberatan dengan pendapatmu tentang aku setelah selesai mendengarkan ceritaku di bagian ini.

Begini, aku merasa keberuntunganku hampir habis ketika ditugaskan ke Timor-Timur. Kejadian itu ada di tahun 1977. Awalnya keberuntungan masih bersama nama dan nasibku. Aku masih menjadi koki yang berada di zona aman. Tugasku masih seperti biasanya. Memasak untuk peleton bersama koki lainnya.

Tetapi sebuah kejadian kemudian menjungkir-balikkan keberuntunganku. Peleton tempatku berada tersesat di tengah hutan. Satu persatu anggota pasukan di bantai musuh tanpa ampun. Kini kami tinggal berlima. Seorang tentara tempur dan empat orang tentara koki termasuk aku. Aku memanggul senjata sekarang. Manusia berseragam dewa dengan nyali seekor curut.

Mereka, teman-teman peletonku bertempur habis-habisan. Aku sendiri dengan semua kepengecutanku bersembunyi di balik suara-suara gaduh pertempuran dan rimbunnya semak-semak. Ya, aku selalu bersembunyi ketika kontak senjata terjadi. Aku keluar dengan nafas yang aku bikin terengah-engah ketika suara desing peluru telah berhenti.

"Aku tersesat. Aku habisi mereka dari belakang." Kataku sebelum mereka bertanya. Mereka akan menepuk-nepuk bahuku dengan sinar mata kagum pada semua penjelasan bohongku.

Nasib penuntun selanjutnya adalah ketika kami bertemu dengan serombongan tentara lainnya. Entah bagaimana ceritanya seorang jenderal bisa berada di tengah pasukan yang tersesat itu.

Suatu siang yang terik, pasukan kami di serang oleh musuh. Pertempuran seru terjadi dan seperti biasanya aku membawa sifat pengecutku bersembunyi di balik asap mesiu dan rimbunnya pepohonan.

Detik berganti menit dan keringat dinginku mengucur deras. Aku duduk meringkuk di bawah ceruk sebuah pohon tua. Lalu aku mulai merasakan ada sesuatu di bawah pantatku. Empuk dan bergerak-gerak. Perlahan aku bardiri untuk melihat benda empuk yang bergerak yang menggangguku. Kodok, berwarna hijau dengan ukuran luar biasa besar bergerak-gerak sekarat akibat tertindih tubuh besarku.

O, ya, perlu kamu ketahui, sifat pengecutku juga membuat aku sangat takut pada banyak binatang. Ketakutan terbesarku adalah pada kodok. Dan ketika melihat kodok raksasa menggeliat-geliat sekarat, tidak ada pilihan lain selain lari menyelamatkan diri.

Begitulah, aku segera tunggang langgang dengan menyeret senjata. Berlari kencang menuju medan pertempuran yang sedang berkecamuk mencari pertolongan rekan-rekan tentaraku.

Beberapa langkah di depan, kakiku tersangkut akar sebuah pohon besar. Aku jatuh terjerembab tepat di depan Jenderal yang sedang tiarap. Semua orang tiarap. Hiruk pikuk pertempuran tiba-tiba berhenti dan hutan kembali senyap.

Semua orang masih tiarap. Jenderal menatapku dengan keringat menetes membasahi wajahnya. Aku melihatnya sekilas sebelum menyadari rasa sakit di dadaku. Ada benda keras mengganjal di tengah dadaku. Aku masih terdiam menahan sakit Lalu Jenderal mulai berdiri di ikuti oleh tentara-tentara yang lain. Mereka semua kini berdiri masih dengan sikap waspada. Jenderal, tanpa aku sangka-sangka tiba-tiba berjongkok dan memeluk tubuhku.

"Terimakasih, anak muda. Terimakasih."

Tentara yang lain mengangkat tubuhku perlahan. Aku duduk berjongkok memegangi sakit di dadaku.

"Hebat, kopral. Kamu berani mengorbankan nyawamu demi Jenderal kita." Kata prajurit itu. Aku belum mengerti. Rasa sakit di dadaku membuatku hampir pingsan.

Lalu aku mulai menyadari apa yang terjadi. Benda keras yang menghajar dadaku adalah sebuah granat yang di lemparkan musuh ke arah Jenderal. Itulah sebabnya semua orang tiarap. Dan dengan sebuah kebetulan yang menguntungkan, aku terjatuh tepat di atasnya. Lebih beruntung lagi, musuh lupa melepas pin granat sehingga tidak meledak.

Peristiwa itu menjadi moment yang paling mernentukan bagi kari militerku. Aku pulang dari Timor-Timur dengan sambutan sebagai pahlawan. Setumpuk tanda jasa di anugrahkan padaku. Jenderal yang aku selamatkan masih sering menghubungiku. Kami menjadi akrab sejak peristiwa itu.

Begitulah cerita yang ingin aku sampaikan.

Sekarang, aku ingin mati sendiri. Pegilah kau. Kenanglah aku berdasarkan cerita jujur yang baru aku sampaikan. Aku tidak keberatan dengan kesimpulan apapun darimu......


Griya Kebraon, 20-Mei-2007

Ferry Herlambang Zanzad

Untuk kakekku tercinta, Ronodrono Zanzad.

Labels:

posted by FerryHZ at 11:36 PM | Permalink |


2 Comments: