(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Tuesday, October 2, 2007
Romantisme Metallica

Beberapa minggu kemarin ada seorang teman datang ke rumah dengan membawa koleksi kaset-kasetnya. Dia ingin mencoba melihat kaset-kasetrnya yang masih bisa di pakai setelah bertahun-tahun tidak pernah di putar. Kebanyakan koleksi kasetnya pernah kita putar sama-sama ketika masih SMA dulu, makanya dia memilih ke rumah saya untuk memutar kaset-kaset itu.

Ingatan saya segera beralih ke masa ketika saya masih SMA. Teman perempuan saya, sebut saja She (bukan Mawar atau Bunga karena terdengar seperti korban pelecehan), waktu itu masih SMP, mengambil kursus bahasa Inggris di PPIA. PPIA sering mendatangkan musisi-musisi jazz ke kampusnya. Saat itu PPIA mendatangkan Michael Frank, dan She mengajak saya untuk memonton konsernya di kampus PPIA. Dengan antusias tentu saja karena dia dan mamanya memang penggila jazz. Saya sendiri tumbuh dengan jenis musik jalanan yang lebih "membumi". Pernah dengar musiknya Michael Frank secara samar-samar.

Karena waktu itu saya dan She memang sepasang monyet yang dekat, tidak mungkin untuk menolak ajakannya. Jadilah kami, sepasang monyet, pergi nonton konser-nya Michael Frank. Awalnya biasa saja, tidak ada kesenangan yang keterlaluan. Hanya komentar berbisik She saja yang saya sukai. Sampai pada pertengahan konser, ketika Michael Frank membawakan Anthonius Song dan Monkey See, Monkey doo, perhatian saya segera teralih. Ada kesenangan pada lagu-lagu itu. Sampai sekarang...

Sekarang saya masih memiliki kenangan tentang Michael Frank. Bukan hanya kebersamaan saya dengan She yang sudah berlalu, tetapi kesenangan pada Anthonius Song yang melekat.

Saya hanya senang, tetapi tidak ada romantisme yang bisa saya tangkap dari Michael Frank. Bagi saya, Metallica lebih romantis. Deep Purple, Loudness, G&R, Judast Priest atau Motley Crue telah mengikat jiwa romantisme saya. Lewat lagu mereka saya bisa mengurai kenangan, merasakan setiap detik pengalaman hidup yang pernah terlewati.

Seandainya Sir James Augustus Henry Murray hidup di era 90-an, tentu arti Romantic pada Oxford English Dictionary akan seperti ini:

Romantic

Ro·man·tic or ro·man·tic adj relating to the movement in late 60’- to early 90’ music. Free expression of feelings, nature, and the exotic movement of Jimmy Hendrix, 14 oktav of Ian Gillan and sexy voice of Minoru Nihara. Related to Rush, Deep Purple, Rolling Stones, Black Sabath, Slayer, Van Halen, Manowar, HammerFall and Metallica.

gambar di ambil dari: http://www.st2.com.br/st2_new/admin/produtos/Metalica72dpi.jpg




posted by FerryHZ at 11:26 PM | Permalink |


0 Comments: