(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Monday, April 28, 2008
(CERPEN JADUL): SAMPAI MAUT MEMISAHKAN


Cerpen lama ketemu pas bongkar-bongkar file. Nostalgia dengan gaya penulisan lama.

====================================================================


Sofia duduk di kursi teras depan rumah. Matahari telah habis sinarnya di gantikan terangnya sinar bulan. Sinar penuh bulan purnama. Mbok Mi yang mencoba menemaninya telah masuk ke dalam ketika omongannya tidak satupun di tanggapi oleh Sofia. Bahkan dengan galak Sofia menatap tajam padanya, tidak berbicara sepatah katapun tetapi isyaratnya jelas, mbok Ni harus masuk ke dalam.

“Aku ingin sendiri mbok. Tinggalkan aku,” begitu kata Sofia, tepat ketika mbok Mi duduk di sisinya. Dan ketika mbok mulai berbicara, tatapan galak Sofia segera berbicara membuat mbok Mi kehilangan keberanian untuk tetap berada di dekatnya. Dia segera berlalu menuju ruang tamu.

“Saya kasihan sama nonik, Den. Seharian dia hanya termenung, makanan yang saya siapkan juga tidak di sentuh sama sekali.” Mbok Mi memelas mengadu pada Papa Sofia di ruang tamu.

“Lakukan sesuatu, Pa. Apapun, aku tak tega melihat Sofia terus-terusan seperti ini…” suara mama Sofia tidak kalah memelasnya. Kekhawatiran seorang ibu pada putri tunggalnya.

“Sabarlah barang sebentar, ma. Beri dia waktu. Aku yakin semuanya akan normal lagi beberapa waktu ke depan. Bersabar, ya…” suara papa Sofia lembut mencoba meyakinkan istrinya.

Dan dirinya sendiri.

ooOOoo

Sabtu sore. Hari yang ku tunggu-tunggu.

Di jam begini Sofia tentu telah mandi, berdandan dan memakai minyak wangi kesukaanku yang sengaja di pakainya di hari Sabtu. Parfum dengan aroma melati dan sedikit kayu cendana yang memabukkan. Aku bayangkan dia dengan T-shirt putih bergambar kepala plontos yang sedang mengintip bertuliskan “Now What” dan Jeans belel sebetis yang sering di pakainya. Sofia memang cantik. Seringkali aku memanggilnya Sofia cantikku. Wajahnya memerah luar biasa ketika pertama kali aku memanggilnya begitu. Norak, begitu dia berusaha mengelak. Tapi aku lihat ada senyum di sudut bibirnya, tak tertahankan walau dia mati-matian menyembunyikannya dari pandanganku. Selanjutnya, aku tetap memanggilnya begitu.

Aku teringat masa-masa pertama kali mengenal Sofia. Dia adik kelasku. Aku kelas dua dan dia kelas satu. Kami sama-sama aktif di OSIS dan di tempat itulah pertama kali kami bertemu. Mataku tidak bisa lepas dari Sofia sejak dia memasuki ruang OSIS buat pertama kalinya. Dia datang bersama beberapa teman ceweknya lalu duduk di deret bangku paling belakang, berusaha bersembunyi di balik teman-teman ceweknya. Selama pertemuan itu berkali-kali aku mencuri pandang menunggu datangnya nasib baik dan keberuntunganku.

Akhirnya keberuntunganku yang pertama datang ketika dia mengajukan pertanyaan dan aku memiliki kompetensi untuk menjawabnya. Mata kami jadi sering bertatapan ketika itu. Keberuntungan keduaku datang ketika aku bertugas untuk membagikan snack dan minuman. Mata kami jadi lebih sering bertemu. Dan keberuntunganku yang ketiga, keberuntungan terbesarku, ketika aku mengetahui rumahnya ternyata hanya beberapa gang saja dari rumahku.

Pertemuan selanjutnya (yang lebih akrab) terjadi ketika aku membeli buku tulis di toko Berkah Utama milik pak Umar. Sofia kebetulan juga berada di sana untuk keperluan yang sama. Pada pertemuan itu aku tahu alamatnya dan memberanikan diri untuk mulai berkunjung ke rumahnya. Hari-hari selanjutnya gampang di tebak. Kami bertambah akrab, dekat dan akhirnya resmi berpacaran. Dan keberuntunganku menjadi semakin besar sejak hari-hari itu.

Aku sering membaca surat-surat cinta Bung Karno yang di tulis buat Dewi Soekarno. Berulang-ulang kubaca tanpa pernah bosan sampai aku hafal setiap kata-kata dan tanda bacanya. Aku bahkan dapat membayangkan aura romantisme saat Bung Karno menuliskan surat-surat itu. Perasaan menggebu seorang lelaki yang sedang jatuh cinta terbalut dengan kewibawaan kata-kata seorang pemimpin bangsa dan presiden. Luar biasa. Aku bayangkan diriku sebagai Bung Karno dan Sofia sebagai Dewinya.

Bagian yang paling aku suka, dan paling aku hafal sejak pertama sejak membaca surat-surat mereka, adalah pada bagian penutup. With my thousand kisses. Aku sering bahkan hampir selalu mengutip kalimat itu buat Sofia cantikku. Aku suka ketika dia tersipu, tertunduk dengan senyum yang memamerkan dekik dalam lesung pipinya. Sofia cantikku.

Sofia cewek yang cerdas. Dia selalu menyukai orisinalitas, kreatif dan kemandirian. Tetapi dia selalu suka ketika aku mengutip kalimat Bung Karno. Dia tidak pernah bosan untuk suka. Dan tidak pernah bosan untuk memperlihatkan dekik lesung pipit yang membuat mabuk melayang.

Aku telah berpakaian rapi sekarang, serba putih dengan aroma parfum yang semerbak. Hanya baju putih yang menjadi pilihanku. Sejak peristiwa menyakitkan seminggu yang lalu, tepat seminggu yang lalu, pilihan pakaianku hanya putih. Tapi aku tak keberatan, aku suka dan aku yakin Sofiapun akan menyukai penampilanku. Aku terlihat tampan dengan penampilanku. Beberapa teman baruku bilang wajahku terlihat lebih bersinar sejak peristiwa yang menyakitkan minggu lalu.

Aku lewati garasi, di pojokan bersebelahan dengan mobil bapak, kulihat motor merah kesayanganku. Ringsek dengan warna merah yang hampir tak terlihat. Bercak darah masih terlihat di sana-sini. Bapak dan ibuku dengan rasa sayangnya tentu menyimpan motor itu untuk kenang-kenangan. Aku tidak berniat untuk menggunakan sepeda motor itu lagi. Hari ini aku ingin berjalan kaki, menyusuri jalan-jalan tempat di mana aku sering melewatinya bersama Sofia. Membangkitkan kembali kenangan saat pertama kali aku mengenal Sofia. Saling berbicara pelan sambil bergandengan tangan. Sesekali mendekatkan tubuh kami mencoba melawan dinginnya udara malam. Toh rumahku tidak terlalu jauh dari rumah Sofia, hanya di batasi oleh tiga gang saja.

Aku melewati toko Berkah Utama, toko milik pak Umar yang dagangannya lengkap menyediakan banyak kebutuhan. Di toko pak Umar inilah biasanya aku mampir membeli sebatang coklat untuk Sofia cantikku. Sebatang coklat keras dengan taburan dan isi mente yang sangat di sukai Sofia. Dia selalu menggigitnya dengan perlahan, menikmati setiap gigitannya dan sesekali menggodaku untuk ikut menikmatinya. Sofia tidak pernah takut gemuk. Dia menganggap konyol ketakutan cewek pada coklat. Tubuhnya memang tidak pernah berubah meski batangan-batangan coklat di lahapnya dengan nikmat. Belum lagi es krim yang saban hari di lahapnya. Tubuh tinggi ramping seolah di ciptakan Tuhan untuk menjadi hak yang tak bisa di ganggu gugat bagi Sofia. Tapi hari ini aku tidak bisa membawakan coklat kesukaannya, sejak peristiwa yang menyakitkan minggu sebelumnya.

Yah, tubuh ramping ramping Sofia yang selalu di balut T-shirt dan jeans belel. Aku selalu membayangkannya. Belum lagi putih kulitnya, matanya yang seperti memantulkan sinar bulan dan deretan giginya yang rapi berkilauan. Sofia memang sempurna di mataku. Berkah tuhan yang selalu ku syukuri setiap harinya. Kadang aku merasa sebagai berkah yang terlalu besar untukku. Sofia cantikku memang berkah tuhan yang luar biasa.

Suara klakson dan bel motor terdengar riuh di belakangku (aku selalu menganggapnya isyarat iri) ketika aku mulai memasuki halaman rumah Sofia. Pintu pagar tidak terkunci jadi aku langsung melangkahkan kakiku ke dalam. Sofia telah berada di beranda, duduk di kursi besi panjang tempat biasanya kami menghabiskan waktu di Sabtu malam. Di kursi itulah biasanya kami duduk sebelum pindah ke taman di depan dekat pintu gerbang yang sekarang aku lewati. Saling bicara sambil sesekali memberi komentar pada lalu lalang kendaraan atau orang lewat di depan rumah ketika kami mulai kehabisan bahan pembicaraan.

Seringkali kami juga memanggil pak Rochim, penjual bakso daging sapi yang biasanya lewat depan rumah. Aku mengenal bakso pak Rochim juga karena Sofia. Dia sangat menyukai bakso daging bulat dengan ukuran yang menurutku luar biasa itu, mengambil satu atau dua biji lalu mengambil lagi sebiji milikku ketika miliknya telah habis. Aku suka memperhatikan detil-detil kecil kebiasaannya.

Aku langsung duduk di sebelah kanan Sofia. Sofia menoleh sebentar, memegangi kuduknya bersama dengan datangnya angin dingin yang menyertaiku. Senyum dan dekik lesung pipitnya mengembang. Ah, Sofia tidak kehilangan pesonanya meski peristiwa yang menyakitkan itu telah terjadi. Matanya berkabut membentuk pantulan sinar rembulan dan bintang-bintang. Di pangkuannya tampak album foto yang kami ambil ketika mengikuti tour sekolah di Bali, tergenggam erat oleh kedua tangan mungilnya.

“Aku menunggumu, kak Johan…” kata-kata Sofia terdengar lirih dan gemetar, aku mendengarnya sebagai sebuah desahan dari rasa sakit di hatinya.

“Aku tahu Sofia, tidak ada yang dapat menghalangimu untuk menungguku. Bahkan peristiwa menyakitkan minggu lalu tak akan sanggup menghentikanmu. Juga tak akan sanggup menghentikanku untuk memikirkanmu,” aku berusaha mendekatkan kepalaku. Berusaha sekerasnya agar suaraku di dengar Sofia. Aku lihat Sofia mengangguk. Aku lega.

Sejak peristiwa menyakitkan itu, aku harus berurusan dengan banyak hal, berhitung dengan hal-hal yang tidak sanggup aku kendalikan. Tetapi segala urusan yang menguras enerji dan pikiranku itu tidak mampu menghalangiku untuk memikirkan Sofia. Memikirkan semua hal indah bersamanya atau melupakan dekik dalam lesung di pipi bulatnya. Dan aku bersyukur sekali ketika hari sabtu tiba, hari yang menjadi waktu bagiku dan Sofia untuk bersama. Hari besar yang di sediakan Tuhan untuk kami berdua. Dan berkah terbesar buatku.

“Aku selalu berfikir, apa yang terjadi, mengapa terjadi, apa yang sedang kakak lakukan sekarang. Aku nggak mau sendiri kak Johan, terlalu sepi.” Sofia semakin dalam menundukkan wajahnya. Tangannya semakin erat memegang album foto.

“Aku baik-baik saja Sofia. Tak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku akan selalu ada di dekatmu.” Aku coba menenangkan Sofia. Sebisaku.

Bahkan setelah peristiwa yang menyakitkan itu, aku masih memikirkan Sofia setiap hari, tetapi ini pertama kalinya aku mengunjungi rumahnya. Peristiwa itu memang teramat berat dan luar biasa menyakitkan bagi kami berdua, keadaan tidak akan pernah sama lagi. Sofia masih memiliki semua pesona yang telah memikatku, tetapi dia telah banyak berubah sekarang. Peristiwa itu telah menghancurkan hatinya, dan tentu saja hatiku.

“Aku merindukan kak Johan sekarang. Lebih dari hari-hari yang lain…” kali ini butir-butir bening air mata mulai mengalir dari mata indahnya. Pantulan rembulan dan bintang-bintang berubah menjadi awan lalu berjatuhan seperti tetesan air hujan. Deras membentuk aliran sungai menuruni pipinya. Tidak terlihat lagi dekik lesung pipi yang selalu memikatku.

Aku mendekatkan tanganku ke pipinya, berusaha menghapus air mata Sofia yang meleleh. Tapi aku tak mampu menyentuhnya. Sejak peristiwa yang menyakitkan itu, aku tak kuasa lagi untuk menyentuhnya. Aku tak pernah mengeluh atau mengutuk peristiwa itu, tapi ketidakmampuanku untuk menyentuh dan menghapus air matanya benar-benar menyakitkan. Air matanya semakin deras mengalir, menangisi peristiwa menyakitkan itu. Dan hatikupun semakin sakit.

Sofia, seandainya aku mampu…

ooOOoo

Seminggu sebelumnya.

Johan mengunci kancing jaketnya. Dia berdiri dan mulai melangkah menuju sepeda motornya setelah berpamitan pada orangtua Sofia. Sofia berjalan di sampingnya, sesekali bicara dan tersenyum dengan pantulan sinar bulan di kedua mata beningnya.

“Ati-ati ya kak,” salam perpisahan Sofia masih seperti biasanya. Johan menyebutnya klasik.

“Terimakasih, Sofi. Aku pulang sekarang,” Johan bersiap menstarter sepeda motor merahnya sebelum menyadari sesuatu telah terlewatkan. “O, ya. Ini foto yang di Bali kemarin.” Johan membuka sadel sepeda motor lalu tangannya mengambil album foto dari bagasi.

“Terimakasih kak. Hampir lupa,” Sofia menerima album foto itu tanpa membukanya. Matanya masih menatap Johan yang sebentar lagi akan meninggalkan halaman rumahnya. Tatapan itu juga yang membuat Johan enggan meninggalkan Sofia. Tapi malam mulai larut, dia harus segera pulang sekarang.

Johan menstarter sepeda motornya dan segera meninggalkan rumah Sofia dengan pernak-pernik indah di hatinya. Pikiran mudanya masih di penuhi bayangan Sofia. Segalanya tentang Sofia dan merubah semua di luarnya menjadi bayangan kabur. Termasuk jalan dan lampu-lampu jalan yang juga semakin kabur. Bayangan Sofia telah mengganggu konsentrasinya melebihi hari-hari sebelumnya.

Sampai Johan tiba di tikungan menuju jalan utama, sebuah mobil box besar berbelok tepat di jalur sepeda motornya. Hantaman keras tidak dapat di hindari lagi. Mobil box besar melawan sepeda motor merah Johan. Kecelakaan itu demikian hebatnya sampai Johan terlempar ke belakang meninggalkan sepeda motornya dalam keadaan ringsek. Orang-orang berteriak dan berlarian ke arah Johan yang tergeletak di aspal. Pak Umar berada di antara kerumunan orang dan segera mengenali Johan.

“Astaga! Ini nak Johan, temannya neng Sofia…” tangan kanan pak Umar memeluk Johan, sementara tangan kanannya meraba nadi di lehernya berusaha mencari tanda-tanda kehidupan.

“Dia sudah meninggal…” pak Umar menoleh ke kerumunan orang-orang berusaha mencari pertolongan yang sia-sia.

Johan meninggal di tempat akibat kecelakaan itu. Sebuah kecelakaan yang menjadi peristiwa paling menyakitkan baginya.

Dan bagi Sofia.

posted by FerryHZ at 7:00 PM | Permalink |


0 Comments: