(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Friday, August 15, 2008
Kisah Supriyadi, Tokoh PETA yang Misterius

Kecewa Bung Karno, Pejuang PETA Supriyadi Menghilang


Supriyadi benar-benar hilang dari 'peredaran' setelah Konvensi Meja Bundar ditandatangani. Dia melakukannya karena kecewa terhadap kebijakan Bung Karno.

"Ia kecewa karena Bung Karno menyetujui hasil KMB yang menyatakan Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS)," kata Supriyadi sebagaimana dituturkan pengunjung Bedah Buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran, Isti (28), kepada detikcom, Senin (11/8/2008).

Supriyadi menjelaskan, dengan bentuk RIS, secara otomatis Indonesia masih di bawah kendali Belanda. Baginya, hal itu mengandaikan Indonesia masih dijajah Belanda.

Pejuang yang telah di-'monumen'-kan itu akhirnya mengundurkan diri sebagai Menteri Keamanan Rakyat yang dijabatnya sejak 6 Oktober 1945. Bung Karno tidak mencegahnya, karena itu hak Supriyadi.

"Saya boleh mengundurkan diri dari jabatan, tapi Bung Karno meminta saya tidak meninggalkannya," katanya.

Setelah mundur dari kabinet, Supriyadi diangkat menjadi pembantu utama nomor dua Bung Karno. Pembantu utama nomor satu adalah Winoto Danu Asmoro, karena dianggap lebih senior.

Bung Karno tidak pernah memanggil Supriyadi dengan sebutan Andaryoko maupun Supriyadi, tapi Sup.




Ganti Nama dan Pelihara Kumis untuk Kelabui Jepang


Untuk menghindari penangkapan oleh tentara Jepang, pejuang Pembela Tanah Air (PETA), Supriyadi, mengganti nama. Selain itu, dia juga memelihara kumis.

Saat bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56, Supriyadi diminta pergi ke Semarang. Dia harus menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.

"Saya diterima menjadi staf Kantor Residen Semarang. Nama saya diganti menjadi Andaryoko," kata Supriyadi sebagaimana ditirukan salah satu pengunjung bedah buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran, Isti (28), kepada detikcom, Senin (11/8/2008).

Sejak memulai hidup di Semarang, Supriyadi memelihara kumis. Meski punya nama baru, di Jakarta, dia tetap dikenal sebagai Supriyadi.

Supriyadi tidak sempat menceritakan liku-liku hidupnya selama di Semarang. Dia hanya menyebutkan hal-hal penting terkait sejarah negara Indonesia.




Oleh Triono Wahyu Sudibyo - detikNews

Sumber dari sini dan sini.



posted by FerryHZ at 8:11 AM | Permalink |


0 Comments: