(function() { (function(){function c(a){this.t={};this.tick=function(a,c,b){var d=void 0!=b?b:(new Date).getTime();this.t[a]=[d,c];if(void 0==b)try{window.console.timeStamp("CSI/"+a)}catch(l){}};this.tick("start",null,a)}var a,e;window.performance&&(e=(a=window.performance.timing)&&a.responseStart);var h=0=b&&(window.jstiming.srt=e-b)}if(a){var d=window.jstiming.load;0=b&&(d.tick("_wtsrt",void 0,b),d.tick("wtsrt_","_wtsrt", e),d.tick("tbsd_","wtsrt_"))}try{a=null,window.chrome&&window.chrome.csi&&(a=Math.floor(window.chrome.csi().pageT),d&&0=c&&window.jstiming.load.tick("aft")};var f=!1;function g(){f||(f=!0,window.jstiming.load.tick("firstScrollTime"))}window.addEventListener?window.addEventListener("scroll",g,!1):window.attachEvent("onscroll",g); })();

Tuesday, November 4, 2008
(CERBER) Sutarmi si pendosa; episode Parijo (bagian 2)

Parijo di masa kanak-kanak

Tiga atau empat langkah di depan Parijo berdiri kokoh sebatang pohon beringin. Batangnya besar berhias cabang-cabang besar dengan kulit kasar. Sulur dan akarnya menjalar dan terkadang bertautan, persis otot tubuh seorang lelaki perkasa. Lelaki perkasa yang setiap saat berada di pikiran kanak-kanak Parijo.

“Ini bapakku, mak?” Suatu hari Parijo bertanya pada emaknya. Tangan mungilnya menunjuk batang beringin yang tumbuh tepat di tapal batas desa.. Mereka dalam perjalanan pulang dari pasar.

“Bapakmu lelembut barongan, nak. Tidak seperkasa pohon beringin,” jawab emaknya. Parijo tetap berkeras kalau bapaknya adalah pohon beringin. Dia mendebat semua omongan emak sepanjang perjalanan pulang. Dan pikiran tentang bapaknya yang seperkasa pohon beringin tetap mengendap di otak kanak-kanaknya.

Parijo di masa kini

Pohon beringin itu masih berdiri kokoh. Tidak berkurang sedikitpun kegagahannya, bahkan setelah Parijo beranjak dewasa. Parijo selalu datang setiap siang menjelang sore. Menghabiskan siang dan terlelap di bawah kedamaian pohon beringin. Dalam tidurnya, pada mimpi-mimpi indahnya, seorang lelaki gagah keluar dari sela-sela lekuk batang beringin. Lelaki bertubuh tinggi besar dengan otot serupa akar-akar beringin di sekujur tubuhnya.

Lelaki itu selalu mengulurkan tangannya pada Parijo. Otot dan lengan perkasanya terlihat jelas. Tetapi Parijo - bahkan setelah ratusan kali bermimpi - tidak dapat melihat wajah si lelaki. Bayangan menyerupai halimun menutupi wajahnya.

“Aku bapakmu, Parijo.” Kata lelaki itu setiap saat. Selalu begitu setiap dia mengulurkan tangannya pada Parijo. Parijo selalu bangkit dan menatap takjub pada lelaki itu.

Dan pada mimpinya yang ratusan kali, Parijo berusaha menyambut uluran tangan lelaki itu. Ratusan kali pula Parijo kecewa. Dia tidak pernah berhasil menyambut uluran tangan si lelaki perkasa. Hanya udara kosong yang teraih.

Parijo putus asa bahkan setelah tersadar dari mimpi. Di sepanjang hidupnya dia dikecewakan oleh mimpi tentang bapaknya. Lalu putus asanya memuncak. Dia berteriak-teriak seperti orang gila. Berkeliling desa dengan sebilah pedang terayun-ayun. Parijo semakin menggila lalu dia berjanji akan membunuh bapak di mimpinya.

Parijo kini memiliki dendam pada bapak di mimpinya.

Lelaki gagah di ujung desa

Sebelum kamu mengambil kesimpulan tentang lelaki ini, aku ingin bercerita tentang kegagahannya terlebih dahulu.

Lelaki ini biasa di panggil Karto Dongkel. Entah kenapa panggilan Dongkel berada di belakang namanya. Tetapi lelaki itu langsung di panggil dengan nama itu ketika pertama kali datang ke desa. Tubuh Karto Dongkel tinggi kokoh seperti bukit cadas yang membentengi desa. Dia memang menjadi pelindung desa, tepat seperti bukit itu. Terbukti ketika sekawanan begal datang, Karto Dongkel menghalaunya di pintu masuk desa. Tubuhnya terluka parah dan Karto Dongkel menjadi pahlawan desa di hari-hari selanjutnya.

Lalu bertahun-tahun kemudian, Karto Dongkel adalah legenda. Desa kecil terrpencil itu menjadi terkenal berkat legenda sang Marto. Pejabat kabupaten selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Marto dan desa kecil itu mendapatkan cipratan kesejahteraan. Jalan desa, dari ujung ke ujung, di bangun sehalus pipi Sutarmi sang kembang desa yang kala itu bak kuncup bunga sedang mekar. Pendapa desa adalah miniatur pendapa kabupaten. Megah di tengah-tengah halaman luas berumput dan berpagar pohon kemangi. Desa Wirogunan menikmati kemakmuran berkat Karto Dongkel, lelaki gagah yang bertempat tinggal di ujung desa.

Lain kali, aku akan bercerita lagi tentang Karto Dongkel. Dia memiliki sebuah janji. Aku akan ceritakan janji sang Karto.


Bersambung.

Bagian sebelumnya.



posted by FerryHZ at 8:51 PM | Permalink |


0 Comments: